Gak nyangka kalo liburan kali ini, banyak hal diluar dugaanku. Hari pertama di interogasi selama sejam beberapa menit setelah bangun tidur. Padahal semalem baru pulang dari luar kota.
Coba menerangkan. Tapi yang diterangkan malah meneteskan air mata merasa aku adalah beban hidup yang belum tersolusikan.
Ternyata berusaha memberikan informasi sedetail mungkin, untuk membuat mereka mengerti, tidak cukup sama sekali. Karena mereka hanya ingin mendengarkan apa yang ingin mereka dengar. Mereka sudah punya kesimpulan sendiri. Interogasi pagi itu, hanya sebuah rutinitas beberapa bulan terakhir, untuk membuat aku goyah, aku menyerah, putus asa, dan berhenti berjuang.
Interogasi kedua, terjadi keesokan kalinya, bukan oleh orang yang sama. Namun sangat salah jika yang ini disebut sebagai interogasi. Karena tidak ada kata pembuka yang mempertanyakan posisiku, rasaku, kenapa diriku.
Lebih pantas jika disebut sebagai doktrinisasi. 3 Jam lebih saya mengunci mulut dan hati. Agar air mata tak meleleh di pipi. Mencoba senyum atas semua kalimat dan pandangan dia atas diriku. Ingin teriak dan beranjak pergi meninggalkan dia bicara sendiri. Tapi tidak. Jika aku beranjak sekarang, dia akan mencoba di lain kali. Dan aku tidak mau ada lain kali. Mangkanya ku paksakan diri untuk tetap memandang dia ketika bicara menghakimi diriku tanpa bukti. Kalimat demi kalimat yang tersusun selama 3 jam tanpa henti, tak ada yang terlewati menyakiti diriku.
Istighfar terus kulantunkan dalam hati, berdo'a agar Allah memberi kesabaran hati. Atas semua penghakiman yang terjadi.
Setelah semua kalimat itu berhenti, dan aku tetap mencoba tersenyum, ku paksa diri merangkul dia, ku paksa diri memeluk dia, mencoba sekuat hati untuk mengucapkan terima kasih meski dengan lirih atas semua perhatian dia terhadap diri ini.
Diam adalah Emas untuk saat ini, biar waktu yang membuktikan semua ini.