29.8.08

Aku dan Selaput Daraku

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:(Lupa)
Buku yang menceritakan tentang seorangg gadis yang merupakan anak tunggal keluarga pesantren yang sangat religius. Penuturannya yang sangat lugas tapi tidak terkesan porno, membuat buku ini sangat menarik untuk disimak. Begitu juga kebencian-kebencian dia terhadap agama dan yang melatarbelakanginya.
Dan yang membuat saya tetap bertahan untuk menyelesaikannya sampai halaman terakhir adalah ceritanya yang tidak biasa dan ending dari tokoh utama.
Sungguh mencengangkan!!!

Penulisnya seorang wanita muda kelahiran tahun 1983. Sungguh berani dan sangat out of the box!

21.8.08

Hidden Agenda

Gak nyangka kalo liburan kali ini, banyak hal diluar dugaanku. Hari pertama di interogasi selama sejam beberapa menit setelah bangun tidur. Padahal semalem baru pulang dari luar kota.
Coba menerangkan. Tapi yang diterangkan malah meneteskan air mata merasa aku adalah beban hidup yang belum tersolusikan.
Ternyata berusaha memberikan informasi sedetail mungkin, untuk membuat mereka mengerti, tidak cukup sama sekali. Karena mereka hanya ingin mendengarkan apa yang ingin mereka dengar. Mereka sudah punya kesimpulan sendiri. Interogasi pagi itu, hanya sebuah rutinitas beberapa bulan terakhir, untuk membuat aku goyah, aku menyerah, putus asa, dan berhenti berjuang.

Interogasi kedua, terjadi keesokan kalinya, bukan oleh orang yang sama. Namun sangat salah jika yang ini disebut sebagai interogasi. Karena tidak ada kata pembuka yang mempertanyakan posisiku, rasaku, kenapa diriku.
Lebih pantas jika disebut sebagai doktrinisasi. 3 Jam lebih saya mengunci mulut dan hati. Agar air mata tak meleleh di pipi. Mencoba senyum atas semua kalimat dan pandangan dia atas diriku. Ingin teriak dan beranjak pergi meninggalkan dia bicara sendiri. Tapi tidak. Jika aku beranjak sekarang, dia akan mencoba di lain kali. Dan aku tidak mau ada lain kali. Mangkanya ku paksakan diri untuk tetap memandang dia ketika bicara menghakimi diriku tanpa bukti. Kalimat demi kalimat yang tersusun selama 3 jam tanpa henti, tak ada yang terlewati menyakiti diriku.
Istighfar terus kulantunkan dalam hati, berdo'a agar Allah memberi kesabaran hati. Atas semua penghakiman yang terjadi.

Setelah semua kalimat itu berhenti, dan aku tetap mencoba tersenyum, ku paksa diri merangkul dia, ku paksa diri memeluk dia, mencoba sekuat hati untuk mengucapkan terima kasih meski dengan lirih atas semua perhatian dia terhadap diri ini.

Diam adalah Emas untuk saat ini, biar waktu yang membuktikan semua ini.


14.8.08

Belajar jadi spionase

Awalnya gak pernah terbayangkan jika harus menjadi spionase. Ini terjadi karena perusahaan ku sedang mencoba untuk memilih mitra kerja untuk sebuah proyek kecil. Karena aku salah satu tim di dalamnya, maka aku mengusulkan sama atasanku untuk mencari tahu apakah 2 perusahan yang mengajukan kerjasama itu fiktif atau memang benar-benar ada.
Karena jaman sekarang semua gampang untuk dibuat, kop surat, kartu nama, akte pendirian dan sebagainya.
Akhirnya hari senin kemarin, berangkat lah aku ke jakarta, dengan modal kartu nama kedua perusahaan tersebut. Sebutlah Company A dan Company B.
Company A ini, menurut yang tertulis di kartu nama lokasi perkantorannya di daerah Joglo. Saya mah urang Bandung, jadi pan gak punya kemampuan yang cukup qualified untuk mengubek-ubek kota Jakarta sedemikian rupa. Mangkanya, sehingga daripada, meskipun, diantaranya.... (halah... kumaha eta kalimat teh atuh?), saya mengajak si mas untuk membantuku. Ternyata asyik juga. Dengan berbekal peta jakarta tahun kapan, sempet juga nyasar-nyasar di sekitar Bintaro, akhirnya sampai juga di daerah Joglo. Namun kesulitan berikutnya adalah di Joglo itu ada beberapa kawasan perhunian. Untung karena kejelian mata kita, akhirnya tanpa sengaja kita menemukan kawasan yang dituju. Cari - cari nomor rumah, tanya sana sini nama direktur Company A, semua tetangga gak ada yang pada tau.

Sempet punya asumsi juga kalo ini alamat bukan alamat kantor yang sebenarnya. Akhirnya kita datangi sebuah tempat makan, dan eeeehhh... ternyata kebetulan yang punya adalah ibu RT. Kita tanya-tanya deh sama si ibu, nah ibu tersebut bilang kalo sekitar sini gak ada yang namanya Mr. X, tapi memang ada sebuah rumah di hook sana yang dijadikan sebuah kantor belum lama ini.

Seselesainya makan siang di warung ibu tadi, kita kitarin tuh rumah sampe beberapa kali karena gak merasa yakin kalo itu sebuah kantor, . Nampak gak ada woro wiri kegiatan di dalam. Sepi.. sunyi.... senyap....
Akhirnya aku telepon atasanku. Laporan sementara menurut pandangan aku pribadi disampaikan. Bapak menyarankan agar aku mendatangi alias bertandang ke rumah itu untuk memastikan (karena aku udah dateng jauh-jauh jadi musti pasti).
Sempet berkelit sama atasanku, karena kan gak ada dalam skenario untuk bertandang janjinya cuma mencari info di sekitar lokasi aja. Jadinya pakaian ku pun tidak ku persiapkan untuk pertemuan bisnis. Tapi bapak meyakinkan aku, untuk mencari alasan yang logis.

Akhirnya setelah menarik nafas 2 sampe 3 kali, aku menemukan ide.
Ku dial telepon sekretaris Company A.

"Mbak.. saya Feti dari ASSI, maaf nih mbak, saya kebetulan sedang cuti di Jakarta, tapi karena atasan saya tahu kalo saya sedang di Jakarta, maka beliau mengutus saya untuk sekalian berkunjung ke kantor mbak. Mudah2an dokumen yang kita minta beberapa hari yang lalu sebagai kelengkapan administrasi bisa saya bawa sekalian ke bandung hari ini"

"Oh boleh mbak, kebetulan saya mau pergi ke luar kantor niy, mbak feti baru sampe mana nih? Perlu kami jemput di mana? Mungkin jika mbak Feti tidak keberatan, hanya pak Direktur aja yang akan menemui mbak. Saya dan Pak..... kebetulan harus keluar kantor."

"Terima kasih mbak, tidak usah di jemput, saya sudah di sekitar Cileduk (sedikit berbohong, padahal saya hanya satu blok dari kantornya). Mungkin sekitar 30 menit lagi akan sampai di sana"

"Baiklah kalo begitu mbak, kami tunggu"

Setengah jam lebih sedikit kemudian, saya mengetuk gembok terali besi pintu kantornya. Seorang sekretaris menyambut saya. Setelah duduk sebentar di ruang tunggu, saya dipersilahkan masuk kantornya pak Direktur.

"Duh maaf nih pak X, saya memakain jeans, karena ini di luar rencana saya hari ini. Jadi kebetulan hari ini saya cuti, dan diketahui oleh atasan saya yang menelepon saya mengenai progress proyek kecil itu. Karena beliau tahu saya sedang di Jakarta, beliau memaksa saya untuk sekalian mendatangi bapak di sini dan mudah2an dokumen yang kami minta bisa sekalian saya bawa ke bandung."

"Oh.. gak papa mbak Feti, saya mengerti, saya juga kalo ngantor sebetulnya lebih suka pake pakaian kasual dibanding kemeja berdasi begini."

Dari obrolan yang rada santai itu, secara tidak langsung saya bisa menyimpulkan banyak hal. Suasana kantornya, yang kurang lebih memiliki 13 staf, sejarah kenapa kantornya pindah-pindah, kegiatannya selama ini, dsb...

Kurang lebih 45 menit mengobrol, akhirnya saya pamitan, dengan alasan bahwa rencana reunian saya dengan teman sekantor waktu di Jakarta jaman dulu, sudah agak terlambat.

Destination kedua adalah lokasi Company B, yang letaknya di dekat perumahan Klender. Tak lupa dengan bantuan peta pula kita sampe kesana. Yang ini, kelihatannya si empunya lokasi lebih dikenal. Buktinya dengan bertanya sekitar 100m dari lokasi, satpam langsung mengenali orang yang kita tuju. Namun sayang ketika saya mendapatinya, adalah rumah tinggal. Dan tidak ada lantai 2, seperti yang tertera di kartu namanya.

Kemudian saya mencoba untuk menelpon bapak Y, namun sayang bapak Y sedang tidak ada di kantor, dan sedang bertemu kliennya. Saya mencoba menegosiasi untuk tetap datang ke kantornya meski hanya bertemu dengan anak buahnya. Namun keliahatannya beliau membangun benteng yang tinggi sehingga tidak ada kesempatan saya untuk berkunjung ke kantornya, dengan alasan semua pegawainya sedang berada di luar bersama dia di tempat kliennya.

Kemudian saya coba untuk menanyakan lokasi kantor nya (padahal saya ada di depan rumahnya saat itu), dan dia menjelaskan bahwa lokasi kantornya adalah di bawah fly over casablanca. Yang notabene sangat jauuuuuuuh dengan lokasi yang tertera di kartu nama dia.

Akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke bandung sore itu juga, setelah seharian menyusuri kota Jakarta dari bagian Barat hingga ke ujung Timur. Dengan oleh-oleh sakit pinggang, karena seharian di dalam mobil, mencari alamat.

Semua hasil temuan akhirnya dilaporkan tanpa dikurangi atau ditambahi. Meski dengan embel-embel usulan sama atasan agar tidak terburu-buru untuk memilih mitra kerja. Karena proyek ini tidak ada dead linenya. Dan tentunya pekerjaan ini membutuhkan asas kepercayaan yang sangat tinggi. Karena menyangkut nama baik perusahaan.

Fuuiiiihhh.. ternyata gak gampang juga ya jadi spionase. Dan takutnya lagi, apa yang kita sudah berhasil simpulkan tidak sesuai dengan sebenarnya. Karena kurangnya kemampuan untuk menganalisa kondisi, lingkungan, orang, dan sebagainya.
Apapun itu, senang rasanya punya kesempatan seperti ini. Hal lain dalam hidupku tentunya.