20.5.09

Dan, Dialah Dia

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Andi Bombang
Setiap kali selesai membaca buku Andi Bombang (terutama Kun Fayakun & Dan, Dialah Dia) seakan-akan segala permasalahan saya raib! Hilang entah kemana.

Saya juga merasa tidak pantas untuk menilai buku ini. Karena isinya yang maha dasyat. Sangat terbaca bahwa si penulis sudah naik tingkat pemahamannya akan "Dia" dibanding ketika memaparkan "Dia" dibuku Kun Fayakun.

Meski alur cerita yang dibahas sangat singkat-singkat, penulis ingin memasukkan banyak hal dan kejadian ke dalam buku ini. Namun tidak mengurangi pelajaran yang disampaikan oleh tokoh utama Pamungkas. Jika saja tak ada batasan dari penerbit mungkin Abang (panggilan akrab Andi Bombang) akan menuliskannya lebih dari 1000 halaman.

Nyatanya buku ke-3 dari Abang semakin membuat saya ingin dan penasaran untuk bertemu langsung dan bertatap muka dengan penulisnya. Bukan ingin meminta tanda tangan atau foto bersama, melainkan ingin mencari jawaban atas beribu pertanyaan (sekarang sudah berkurang karena dijawab dalam buku "Dan, Dialah Dia") yang muncul selama kurang lebih 10 tahun terakir dalam hidup saya.

Apakah Abang adalah Haji Imran yang sebenarnya? Hope so. Karena dengan begitu mungkin saya akan berguru kepadanya.

15.5.09

Bingung

Hijau, Biru, Ungu.
Semua sudah kucoba. Tak sebagus kalau kupakai kaos berpita manis warna merah. Bahkan masih lebih bagus saat kukenakan celana putih selutut yang dipadu dengan baby doll pink merona. Tapi semua itu terasa tidak pas di hati.

Kukeluarkan kembali tumpukan baju dalam lemari setengah terbuka tanpa kaca. Kucoba satu persatu. Bahkan baju favorit hadiah ulang tahun dari ayah tetap tidak cocok dikenakan.

Bimbang, kuhempas tubuh di atas tempat tidur. Di antara taburan berlusin-lusin pakaian. tangan terlentang lebar.

Menyerah sudah ragaku. Ingin terlihat cantik saja susah sekali. Padahal moment ini begitu penting. Satu fase dalam hidupku. Ibuku bilang umur 18 tahun sudah pantas untuk memutuskan segala sesuatu sendiri. Ini saat kuputuskan sesuatu yang penting itu.

Tangan masih merentang lebar. Kuraih acak sepasang baju. Dan kupakai dengan lebih pasti kali ini.

Baju sudah kupilih. Sekarang tinggal memilih lelaki mana yang akan kuputuskan hubungan terlebih dahulu. Nasrudin? Ataukah Antasari?