8.1.09

Hamzah, Sang Juara

Saya dapat tulisan ini dari Kang Roel.
Dan sengaja saya copy paste di sini, agar saya selalu ingat pada pesan yang disampaikan oleh artikel ini.
*******

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Hamzah.
Mobilnya tak istimewa, namun dia termasuk 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Hamzah lah yang paling tak sempurna.

Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya.

Namun, Hamzah bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan.

Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap digaris start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang.

Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 'pembalap' kecilnya.
Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.

Namun, sesaat kemudiaan, Hamzah meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai.
Ia tampak komat-kamit seperti sedang berdoa.

Matanya terpejam, dengan tangan yang bertangkup memanjatkan doa.
Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap !".

Dor. !!!!
Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat.
Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing.
"Ayo..ayo..cepat. .cepat, maju..maju", begitu teriak mereka.

Ahha..sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai.
Dan, Hamzah lah pemenangnya.

Ya, semuanya senang, begitu juga Hamzah. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati.
« Terima kasih »

Saat pembagian piala tiba. Hamzah maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan,
ketua panitia bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan ? ". Hamzah terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Hamzah.

Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. "Aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah."
Semua hadirin terdiam mendengar itu.

Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.

Renungan :

Anak-anak tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua. Hamzah, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian.
Hamzah, tak memohon dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya. Namun, Hamzah, bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa kepada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal, bukankah yang kita butuhkan adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya ?

Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui ?

Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah.

Sesungguhnya, Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya yang sholeh.

Kau Memanggilku Malaikat

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Arswendo Atmowiloto
Ini adalah buku Arswendo pertama yang aku baca. Sebelumnya aku gak tertarik sama buku-buku yang ditulis oleh pe-nyastra. Yang terkesan mendayu-dayu dan puitis.

Tapi entah kenapa ketika melihat judul buku ini, aku langsung tertarik, dan tidak "ngeuh" dengan penulisnya Arswendo Atmowloto yang terkenal itu.

Ketika akhirnya aku mulai membaca halaman pertama, Oh God! Arswendo sangat pintar dalam pemilihan katanya. Briliant!

Kemudian bagaimana saya bisa ternganga dan percaya bahwa "sepertinya" Arswendo pernah menjadi seorang Malaikat.

Ini sebuah hal yang sangat sulit. Dimana penulis bisa dengan pintar menjadikan bukunya begitu nyata dan sesungguhnya.

Well.. ada beberapa bagian "tentang malaikat" dan tentang "kehidupan setelah mati" yang bertentangan dengan keyakianan saya.

Tapi over all aku acung 2 jempol jari kiri dan kanan saya atas karya ini.
Dan pada akhirnya, saya mulai hunting buku-buku Arswendo lainnya...

Ini review yang tertera di bagian belakang buku :

Sebagai malaikat aku bisa menemui mereka di saat terakhir hidup mereka, di beberapa tempat berbeda, dalam waktu yang sama. Aku bisa menghibur, namun tak sepenuhnya mendorong mereka untuk tidak mati pada saatnya.
- Seorang istri yang setia, tulus, mengabdi pada suami, anak, serta menantunya, ingin mengetahui keberadaan suaminya. Suami yang mempermalukan, merendahkan dengan mengawini adik menantunya ini, apakah selalu gembira seperti sebelumnya?
- Seorang preman yang dibakar hidup-hidup, pelan-pelan, dikeroyok, dan tak mau dikasihani.
- Seorang gadis penuh pesona, ditembak polisi karena menolak diperkosa.
- Seorang pengemudi bis yang tahu kendaraannya kurang layak jalan, serta anak-anak sekolah yang menumpang.
- Juga, hampir saja, seekor ayam.
Semua berjalan dengan baik dan memang begitulah sejak awal mula, sampai kemudian aku bertemu anak perempuan kecil, dipanggil Di. Anaknya lucu, mengenaliku dengan baik, entah basah atau kering ketika hujan turun, bisa tetap berada di pangkuan kedua orangtuanya saat seharusnya meninggalkannya.
Sejak ada Di, aku tak merasa sendirian. Aku melihat sayap-sayap malaikat dalam bentuk air mata, juga ketulusan.
Kematian sesungguhnya sangat indah dan menyenangkan---apa pun yang terjadi ketika masih hidup. Tapi ternyata kehidupan juga penuh pesona. Aku sempat tergoda.

7.1.09

Mini Workshop "Sosialisasi WRC"

Start:     Jan 14, '09 09:00a
End:     Jan 14, '09 3:00p
Location:     Ruang Rapat Sabilulungan PT. TELKOM, Bandung
Kata si Bos niy, Indonesia ini suka ketinggalan untuk ngasih proposal WRC. Padahal tuh kegiatan internasional ini wajib setiap 2 tahun sekali. Secara orang-orang di dunia internasional udah nge-take frekuensi, pas kita masukin udah gak kebagian.
Walhasil industri lokal kita gak pernah maju-maju, selalu jadi sub-kontrak orang bule mulu.
Huhuhu... :((
Jadi tahun ini, ASSI musti sosialisasi di awal, biar kita gak ketinggalan kereta lagi untuk WRC 2011.