Something happen in Senayan City last Wednesday...
Hanya kita yang tauuu.....
hihiihiiii..... ternyata ya....
Kalo gue mo curhat.. yang pasti di sini lah tempatnya... Kalo gue mo marah-marah... ya di sini lah gua ngeluarin nya.. Kalo gue mau mehe-mehe.... dimana lagi kalo bukan di sini.. Gue orangnya (agak) centil, (over) sensitif, (over) moody, bukan pendendam (tapi kalo maafin orang kayaknya susahhhh banget... apalagi sama pemboonk yang gak nyadar kalo dia udah salah), rada-rada penderma sama keluarga hehe.... dan paling sebel sama MUNTAH........ !!!!! OWEK! iiihhh... Jijay....
25.9.08
17.9.08
Harga Sebuah Tawa
Buat aku yang sudah lama hidup tanpa tawa, tawa adalah sebuah harga yang sangat mahal. Bahkan, sebulan yang lalu, akhirnya aku membeli sebuah tawa. Untuk tawa yang kuharap didapat selama kurang lebih 3 bulan, meski harus seminggu sekali.
Kenapa kau rampas tawaku sekian lama ini?
Kenapa kau abuse emosiku sekian kali?
Kenapa kau tak lelah menggangguku setiap hari?
Sana bawa tawamu, dan bagi dengan orang-orang yang ingin mendengarnya..
Jangan kau paksa aku dengan bahan tawamu...(Gariiiing!!!!!)
Karena aku sudah menemukan tawaku di komunitas baruku...
Meski aku harus menebusnya dengan ratusan ribu....
Kenapa kau rampas tawaku sekian lama ini?
Kenapa kau abuse emosiku sekian kali?
Kenapa kau tak lelah menggangguku setiap hari?
Sana bawa tawamu, dan bagi dengan orang-orang yang ingin mendengarnya..
Jangan kau paksa aku dengan bahan tawamu...(Gariiiing!!!!!)
Karena aku sudah menemukan tawaku di komunitas baruku...
Meski aku harus menebusnya dengan ratusan ribu....
12.9.08
Kabar gembira yang masih kabar burung [hope not]
Horeeeey.... Kemaren si bos ngomong ngemeng sama aku, katanya dia mau memperjuangkan biar gaji aku di tahun 2009 bisa naik 3 kali lipat. Siapa sangka?
Wah... memang sudah waktunya dong bos, kita dihargai seperti itu.
Jangan pelit, jangan itung-itungan sama anak buah.
Wong kita sudah keluarkan segenap jiwa dan raga untuk kemajuan bersama!
Ah.. mudah2an sore kemaren itu, malaikat lagi jalan-jalan dan berkunjung ke meja kami...
trus dicatet deh, trus dilaporin deh sama Allah, trus Allah kabulin deh tuuuuuh...
Hip.... Hip.. Horey...
Wah... memang sudah waktunya dong bos, kita dihargai seperti itu.
Jangan pelit, jangan itung-itungan sama anak buah.
Wong kita sudah keluarkan segenap jiwa dan raga untuk kemajuan bersama!
Ah.. mudah2an sore kemaren itu, malaikat lagi jalan-jalan dan berkunjung ke meja kami...
trus dicatet deh, trus dilaporin deh sama Allah, trus Allah kabulin deh tuuuuuh...
Hip.... Hip.. Horey...
Asistensi 2- Pilot Project
| Start: | Sep 15, '08 4:00p |
| End: | Sep 15, '08 6:00p |
| Location: | Bandung |
Sabtu - Minggu ini mau gue geber biar beres jadi 7 halaman.
So.. sisa waktu yang dua minggu gue bisa iseng bikin novel dengan tema cerita awal.
Semoga saja, Asisten baru itu gak dateng jadi tidak memaksakan kehendaknya meski dengan tutur kata yang lemah lembut.
Maksa ya tetep maksa!
[Hukum I Newton] That's my mood
Mood gw niy nyebelin banget siy. Cenderung diam tak bergerak dalam satu posisi.
Kalo udah Betmut, cenderung gitu seharian. Susah di utah uget. Udah dicoba segala cara untuk men-cheers-up2 kan diri keukeuuuuh weeh betmut.
Kadang berhasil pake cara X, tapi kalo kejadian lagi betmutnya di lain waktu, cara X udah gak mempan jadi solusi.
Dongkol banget gak siy. Mending kalo ada alasan. Ini banyakan nya gak ada hujan gak ada angin, tuh betmut stay sok imyut nemenin diri seharian penuh.
Nah giliran lagi gutmut, biasanya gak pernah bertahan lama. Sekali ada yang gak sesuai hati langsung runtuh ke bawah berubah betmut.
Mikir-mikir kok kayak hukum I Newton tentang kelembaman ya, bahwa benda yang dalam keadaan diam akan mempertahankan keadaannya untuk tetap diam dan benda yang sedang bergerak lurus beraturan akan cenderung mempertahankan keadaannya untuk bergerak lurus beraturan dalam arah yang sama selama tidak ada gaya yang bekerja padanya.
Tapi eniwey bas wey endekakapiten, tuh hukum newton cuma cocok kalo gw lagi betmut.
Huahuaaahuuu huuuuhuuuu...
Kalo udah Betmut, cenderung gitu seharian. Susah di utah uget. Udah dicoba segala cara untuk men-cheers-up2 kan diri keukeuuuuh weeh betmut.
Kadang berhasil pake cara X, tapi kalo kejadian lagi betmutnya di lain waktu, cara X udah gak mempan jadi solusi.
Dongkol banget gak siy. Mending kalo ada alasan. Ini banyakan nya gak ada hujan gak ada angin, tuh betmut stay sok imyut nemenin diri seharian penuh.
Nah giliran lagi gutmut, biasanya gak pernah bertahan lama. Sekali ada yang gak sesuai hati langsung runtuh ke bawah berubah betmut.
Mikir-mikir kok kayak hukum I Newton tentang kelembaman ya, bahwa benda yang dalam keadaan diam akan mempertahankan keadaannya untuk tetap diam dan benda yang sedang bergerak lurus beraturan akan cenderung mempertahankan keadaannya untuk bergerak lurus beraturan dalam arah yang sama selama tidak ada gaya yang bekerja padanya.
Tapi eniwey bas wey endekakapiten, tuh hukum newton cuma cocok kalo gw lagi betmut.
Huahuaaahuuu huuuuhuuuu...
Juminten, Sebuah Ringkasan Cerita
Juminten, gadis berumur 21 tahun dan berparas ayu. Dia berasal dari Sragen dan ingin mencari peruntungan hidup di Jakarta. Ketika tiba di Stasiun Kereta Senen, Juminten sangat kebingungan untuk mencari rumah Pak De Kardijan, adik kandung ibunya. Pada saat itu, dia hanya berbekal peta hasil tulisan tangan Pak De-nya setahun yang lalu dan alamat yang dituju seadanya.
Perjalanan dalam pencarian rumah saudaranya itu, mempertemukannya dengan Betran. Seorang tukang bajaj berumur 28 tahun yang sok Metropolis. Kelucuan-kelucuan terjadi ketika Betran, yang bernama asli Paijo ”memaksa” untuk mengantarkan Juminten yang terlihat kebingungan di kota Jakarta yang baru pertama kali ini dia kunjungi.
Sifat Juminten yang lugu dan selalu menelan mentah-mentah setiap informasi, dimanfaatkan oleh Betran yang sedari awal sudah berniat jahat pada Juminten. Lelaki Jakarta mana yang tidak tergoda melihat sosok Juminten yang berkulit kuning lansat, berambut panjang dan berbadan aduhai terbungkus kain kebaya ketat.
Juminten percaya pada Betran yang berjanji akan mengantarkannya ke rumah Pak De Kardijan. Karena Juminten terbiasa hidup di Sragen, dimana semua orang akan dengan senang hati membantu tamu desa yang datang dan membutuhkan pertolongan tanpa pamrih. Sementara itu, Betran memacu otaknya dengan keras untuk menemukan cara agar bisa menjerat Juminten.
Kelucuan pertama terjadi ketika Juminten merasakan keroncongan perutnya. Dengan pe-de dia meminta Betran untuk menemaninya makan siang dan sekaligus membayarkannya. Tentu saja Betran protes akan hal ini. Namun Juminten menjelaskan bahwa di Sragen, seorang lelaki harus bisa membela harga dirinya dengan tidak membiarkan perempuan untuk membayar makanannya. Lanjutnya pula, di Sragen setiap tamu yang datang ke desanya harus dihargai selayaknya. Dan dengan termehek-mehek pula, Juminten menghiba pada Betran yang tega jika mengharuskan dia untuk membayar.
Saat itu, Betran mengalah. Lebih tepatnya ”terpaksa” mengalah. Karena malu jika harus beradu mulut di depan orang banyak. Dan faktanya Betran ”terpaksa” mengalah karena luluh oleh wajah kuyu Juminten yang menahan tetesan air mata agar tidak keluar dari pelupuknya. Juminten sedih, karena dia tidak punya cukup banyak uang. Dia hanya berbekal sisa lima puluh ribu rupiah.
Betran membesarkan hatinya sendiri. Bahwa kerugian materi ini tentunya akan terbayarkan kelak jika Juminten sudah berhasil dia jerat oleh akal bulusnya.
Sejurus kemudian, Juminten sudah berada dalam bajaj Betran untuk meneruskan pencarian rumah Pak De Kardijan. Bentran yang sudah hampir 10 tahun tinggal di kota Jakarta, tentu saja sangat mengenal dan mengetahui alamat yang dituju oleh Juminten. Letaknya tidak jauh dari Stasiun Kereta Senen. Oleh sebab itu, setahun yang lalu, Pak De Kardijan cukup memberikan peta itu kepada ibu Juminten sebagai penunjuk jalan. Namun dengan alasan bahwa Jakarta setahun yang lalu dan Jakarta yang sekarang berbeda, Juminten percaya.
Awalnya Betran berharap Juminten membawa bekal uang yang sangat banyak dari Sragen ke Jakarta, sehingga di tengah jalan dia bisa merampas uang tersebut. Namun kasus makan siang itu membuktikan bahwa Juminten tidak memiliki cukup uang untuk dirampas. Akhirnya karena sudah kadung kesel dan dongkol, Betran berniat untuk menjual Juminten kepada Tante Vina, germo berumur 46 tahun yang berlokasi di daerah Mangga Besar. Uang hasil ini akan digunakan oleh Betran untuk melunasi sisa hutangnya membeli bajaj sama Ko Ah Tjong sebesar tujuh juta rupiah.
Dalam perjalanannya ke daerah Mangga Besar, lokasi Tante Vina, berulang kali Juminten meminta Betran untuk meminggirkan bajajnya. Ada-ada saja alasan Juminten untuk menghentikan sejenak perjalanannya yang diyakininya menuju rumah Pak De-nya itu. Berhenti di kios pinggir jalan untuk membeli peniti lah karena kancing kebayanya terlepas waktu tadi bersiteru di warung makan. Kemudian berhenti lagi di kios yang lain hanya untuk membeli minum. Berang hati Betran karena bajajnya disamakan dengan taxi yang bisa dengan seenaknya diberhentikan oleh penumpang di mana saja.
Kesabaran Betran hampir habis, tatkala Juminten memintanya berhenti di depan Mesjid Istiqlal untuk shalat dzuhur dan ashar. Namun, Betran menyabarkan diri dengan memikirkan uang yang akan didapatkannya dari Tante Vina setelah menjual Juminten. Tadinya Juminten akan digarapnya sebelum diserahkan ke rumah germo itu. Namun harga seorang perawan akan lebih mahal ketimbang yang bukan perawan. Akhirnya, Bentran menahan niatnya untuk melakukan perbuatan asusila terhadap gadis tersebut.
Di dalam kawasan mesjid Istiqlal, Juminten mengajak Betran untuk shalat berjamaah. Awalnya Betran menolak karena dia tidak mengetahui caranya shalat. Namun Juminten dengan rendah hati berjanji akan mengajarkannya cara berwudhu hingga cara shalat. Dengan ogah-ogahan pemuda berkulit coklat dan tinggi 174 cm itu menurut dengan satu alasan yang tersimpan dalam hati rapat-rapat bahwa gadis ini akan menghasilkan banyak uang untuk dirinya.
Memasuki mesjid Istiqlal dan melihat kemegahan di dalamnya, membuat hati pemuda yang hanya tamatan SMP ini ciut dan gemetar. Baru kali ini dia merasakan perasaan yang membuat bulu kuduknya merinding. Entah apa yang menggerakkan itu semua. Mungkin karena tempat ini sangat suci. Mungkin baru kali ini Betran disapa oleh-Nya. Tapi yang pasti, perasaan campur aduk itu membuat hati Betran meringis hingga menangis dalam hati. Meratapi kehidupannya yang hambar tanpa cinta-Nya. Dan ketika Betran melihat Juminten mengenakan mukena dengan tetesan air wudhu membasahi wajah ayunya, sejurus kemudian pemuda itu bersujud tersedu sedan. Menyesali semua perbuatannya selama hidup di dunia ini.
Dengan rasa penyesalan yang amat dalam, Betran membeberkan segala niatnya selama ini terhadap Juminten. Juminten yang lugu, pemaaf dan rendah hati hanya tersenyum mendengar penuturannya. Kemudian gadis itu memberikan petuah-petuah hidup yang sangat menyejukkan hati Betran.
Sore itu, menjelang magrib, Betran menuju arah Kemayoran. Lokasi rumah Pak De Kardijan yang selama ini menjadi tujuan Juminten.
Perjalanan dalam pencarian rumah saudaranya itu, mempertemukannya dengan Betran. Seorang tukang bajaj berumur 28 tahun yang sok Metropolis. Kelucuan-kelucuan terjadi ketika Betran, yang bernama asli Paijo ”memaksa” untuk mengantarkan Juminten yang terlihat kebingungan di kota Jakarta yang baru pertama kali ini dia kunjungi.
Sifat Juminten yang lugu dan selalu menelan mentah-mentah setiap informasi, dimanfaatkan oleh Betran yang sedari awal sudah berniat jahat pada Juminten. Lelaki Jakarta mana yang tidak tergoda melihat sosok Juminten yang berkulit kuning lansat, berambut panjang dan berbadan aduhai terbungkus kain kebaya ketat.
Juminten percaya pada Betran yang berjanji akan mengantarkannya ke rumah Pak De Kardijan. Karena Juminten terbiasa hidup di Sragen, dimana semua orang akan dengan senang hati membantu tamu desa yang datang dan membutuhkan pertolongan tanpa pamrih. Sementara itu, Betran memacu otaknya dengan keras untuk menemukan cara agar bisa menjerat Juminten.
Kelucuan pertama terjadi ketika Juminten merasakan keroncongan perutnya. Dengan pe-de dia meminta Betran untuk menemaninya makan siang dan sekaligus membayarkannya. Tentu saja Betran protes akan hal ini. Namun Juminten menjelaskan bahwa di Sragen, seorang lelaki harus bisa membela harga dirinya dengan tidak membiarkan perempuan untuk membayar makanannya. Lanjutnya pula, di Sragen setiap tamu yang datang ke desanya harus dihargai selayaknya. Dan dengan termehek-mehek pula, Juminten menghiba pada Betran yang tega jika mengharuskan dia untuk membayar.
Saat itu, Betran mengalah. Lebih tepatnya ”terpaksa” mengalah. Karena malu jika harus beradu mulut di depan orang banyak. Dan faktanya Betran ”terpaksa” mengalah karena luluh oleh wajah kuyu Juminten yang menahan tetesan air mata agar tidak keluar dari pelupuknya. Juminten sedih, karena dia tidak punya cukup banyak uang. Dia hanya berbekal sisa lima puluh ribu rupiah.
Betran membesarkan hatinya sendiri. Bahwa kerugian materi ini tentunya akan terbayarkan kelak jika Juminten sudah berhasil dia jerat oleh akal bulusnya.
Sejurus kemudian, Juminten sudah berada dalam bajaj Betran untuk meneruskan pencarian rumah Pak De Kardijan. Bentran yang sudah hampir 10 tahun tinggal di kota Jakarta, tentu saja sangat mengenal dan mengetahui alamat yang dituju oleh Juminten. Letaknya tidak jauh dari Stasiun Kereta Senen. Oleh sebab itu, setahun yang lalu, Pak De Kardijan cukup memberikan peta itu kepada ibu Juminten sebagai penunjuk jalan. Namun dengan alasan bahwa Jakarta setahun yang lalu dan Jakarta yang sekarang berbeda, Juminten percaya.
Awalnya Betran berharap Juminten membawa bekal uang yang sangat banyak dari Sragen ke Jakarta, sehingga di tengah jalan dia bisa merampas uang tersebut. Namun kasus makan siang itu membuktikan bahwa Juminten tidak memiliki cukup uang untuk dirampas. Akhirnya karena sudah kadung kesel dan dongkol, Betran berniat untuk menjual Juminten kepada Tante Vina, germo berumur 46 tahun yang berlokasi di daerah Mangga Besar. Uang hasil ini akan digunakan oleh Betran untuk melunasi sisa hutangnya membeli bajaj sama Ko Ah Tjong sebesar tujuh juta rupiah.
Dalam perjalanannya ke daerah Mangga Besar, lokasi Tante Vina, berulang kali Juminten meminta Betran untuk meminggirkan bajajnya. Ada-ada saja alasan Juminten untuk menghentikan sejenak perjalanannya yang diyakininya menuju rumah Pak De-nya itu. Berhenti di kios pinggir jalan untuk membeli peniti lah karena kancing kebayanya terlepas waktu tadi bersiteru di warung makan. Kemudian berhenti lagi di kios yang lain hanya untuk membeli minum. Berang hati Betran karena bajajnya disamakan dengan taxi yang bisa dengan seenaknya diberhentikan oleh penumpang di mana saja.
Kesabaran Betran hampir habis, tatkala Juminten memintanya berhenti di depan Mesjid Istiqlal untuk shalat dzuhur dan ashar. Namun, Betran menyabarkan diri dengan memikirkan uang yang akan didapatkannya dari Tante Vina setelah menjual Juminten. Tadinya Juminten akan digarapnya sebelum diserahkan ke rumah germo itu. Namun harga seorang perawan akan lebih mahal ketimbang yang bukan perawan. Akhirnya, Bentran menahan niatnya untuk melakukan perbuatan asusila terhadap gadis tersebut.
Di dalam kawasan mesjid Istiqlal, Juminten mengajak Betran untuk shalat berjamaah. Awalnya Betran menolak karena dia tidak mengetahui caranya shalat. Namun Juminten dengan rendah hati berjanji akan mengajarkannya cara berwudhu hingga cara shalat. Dengan ogah-ogahan pemuda berkulit coklat dan tinggi 174 cm itu menurut dengan satu alasan yang tersimpan dalam hati rapat-rapat bahwa gadis ini akan menghasilkan banyak uang untuk dirinya.
Memasuki mesjid Istiqlal dan melihat kemegahan di dalamnya, membuat hati pemuda yang hanya tamatan SMP ini ciut dan gemetar. Baru kali ini dia merasakan perasaan yang membuat bulu kuduknya merinding. Entah apa yang menggerakkan itu semua. Mungkin karena tempat ini sangat suci. Mungkin baru kali ini Betran disapa oleh-Nya. Tapi yang pasti, perasaan campur aduk itu membuat hati Betran meringis hingga menangis dalam hati. Meratapi kehidupannya yang hambar tanpa cinta-Nya. Dan ketika Betran melihat Juminten mengenakan mukena dengan tetesan air wudhu membasahi wajah ayunya, sejurus kemudian pemuda itu bersujud tersedu sedan. Menyesali semua perbuatannya selama hidup di dunia ini.
Dengan rasa penyesalan yang amat dalam, Betran membeberkan segala niatnya selama ini terhadap Juminten. Juminten yang lugu, pemaaf dan rendah hati hanya tersenyum mendengar penuturannya. Kemudian gadis itu memberikan petuah-petuah hidup yang sangat menyejukkan hati Betran.
Sore itu, menjelang magrib, Betran menuju arah Kemayoran. Lokasi rumah Pak De Kardijan yang selama ini menjadi tujuan Juminten.
8.9.08
Gelitik Rasa
Pohon itu tak terlalu tinggi. Ada sebuah bangku kayu di dekatnya. Kuayunkan kakiku lamat-lamat. Sambil kuhirup minuman dalam gelas plastik yang kubeli di warung terdekat. Rasanya beraneka rasa. Ada rasa asam, manis dan sedikit pedas. Rasa heran kemudian muncul dalam benakku saat itu. Kok, ada minuman yang berasa pedas. Kupelototi gelas plastik dalam genggamanku. Hmmmmm……, apa ya bahan minuman ini. Warnanya yang hijau muda membuatku menganalisa bahwa itu terbuat dari rasa melon. Ah…., rasa manis mungkin berasal dari melon. Tapi dari mana datangnya rasa pedas dalam minuman itu? Kubulak balik kembali gelas plastik itu. Kali ini, kupindahkan ke tangan yang lain. Kuteliti bagian sisinya yang polos tanpa merek. Di bagian bawah gelas pun tak ada tulisan apapun yang mengidentifikasi merek minuman itu. Setidaknya satu kata akan bisa membantu rasa penasaranku.
Kuhela nafas dalam-dalam. Kuhempaskan tubuhku ke atas bangku kayu itu. Warnya yang sudah kusam tak mengurangi kenyamananku untuk duduk di atasnya. Kusibakkan rambutku, kutekuk lututku. Kusandarkan punggungku di sandaran kursi kayu yang telah di cat hijau. Entah, dicat oleh siapa?
Minuman dalam gelas plastik putih itu sudah setengah kosong. Tapi, aku belum bisa tahu dari mana rasa pedas itu datang. Apa memang dicampur dengan biji cabe kering di dalamnya? Atau gelas plastik itu tadinya kotor dan kemudian dipakai ulang oleh penjualnya? Apa tadi gelas ini bekas digunakan mangkuk rujak? Atau tanganku kah tadi yang kotor? Tapi rasanya, aku tidak makan yang pedas-pedas sebelumnya.
Ah! Persetan dengan rasa minuman dalam gelas plastik ini. Yang jadi kepedulianku sekarang, betapa indahnya jika gelas plastik dalam genggamanku ini adalah tubuh wanita yang kucintai. Pastinya bukan hanya akan kugenggam, tapi akan kupeluk selamanya dalam dekapanku.
Kuhela nafas dalam-dalam. Kuhempaskan tubuhku ke atas bangku kayu itu. Warnya yang sudah kusam tak mengurangi kenyamananku untuk duduk di atasnya. Kusibakkan rambutku, kutekuk lututku. Kusandarkan punggungku di sandaran kursi kayu yang telah di cat hijau. Entah, dicat oleh siapa?
Minuman dalam gelas plastik putih itu sudah setengah kosong. Tapi, aku belum bisa tahu dari mana rasa pedas itu datang. Apa memang dicampur dengan biji cabe kering di dalamnya? Atau gelas plastik itu tadinya kotor dan kemudian dipakai ulang oleh penjualnya? Apa tadi gelas ini bekas digunakan mangkuk rujak? Atau tanganku kah tadi yang kotor? Tapi rasanya, aku tidak makan yang pedas-pedas sebelumnya.
Ah! Persetan dengan rasa minuman dalam gelas plastik ini. Yang jadi kepedulianku sekarang, betapa indahnya jika gelas plastik dalam genggamanku ini adalah tubuh wanita yang kucintai. Pastinya bukan hanya akan kugenggam, tapi akan kupeluk selamanya dalam dekapanku.
-end-
Ruang Gelap
Peluhku mengucur. Menetes dari dahi turun hingga ke dagu. Kupilin-pilih jari jemari tanganku. Wajahku tertunduk. Menatap tanah. Aku tak berani menatap kedua matanya yang sedang berapi-api mengeluarkan luapan emosi. Kedua lututku gemetar, menanti kalimat apa lagi yang akan dikeluarkannya kali ini. Aku tahu, ini adalah kesalahan bodoh yang tidak bisa dia toleri.
”Kamu tahu, sudah berapa lama aku merawat bunga anggrek biru ini?” suaranya yang melengking hampir memekakan gendang telingaku. Tangannya dengan kasar merenggut bahuku.
”Dan berapa banyak uang yang sudah kuhabiskan untuk membelinya? Hah?”
”Ceroboh sekali kau, Surti!!!”
Aku menjawab dengan terbata-bata dan ketakutan setengah mati. Masih dengan wajah tertunduk, kedua lututku semakin lemas dan tak berhenti gemetar.
”Anu Bu... ehhmmm... tadi.. anu... saya melihat ada 2 kucing kampung yang sedang berantem. Dan hmmm... anu... tadi.. tadi... saya coba melerai kucing itu Bu...”
”Lalu?” terlihat wanita berwajah jutek dan merupakan majikanku ini tidak sabar menunggu jawaban dariku. Aku bekerja sebagai pembantu rumah tangganya baru dalam sebulan terakhir ini. Kemudian kulanjutkan penjelasanku.
”Lalu, waktu saya mencoba melerainya dengan sapu, saya tidak sengaja menyenggol pot bunga anggrek itu, Bu. Maafkan saya, Bu.”
Air mataku mulai merebak. Sekuat hati kucoba untuk menahannya agar tidak tumpah dan mengalir di pipi. Saya tahu, Nyonya majikanku ini tidak akan semudah itu memaafkanku kali ini. Karena ini sudah yang kesekian kalinya aku merusak bunga – bunga kesayangannya.
Oh Tuhan, matilah aku kali ini. Bisa-bisa dipecatnya aku dari pekerjaan. Padahal aku sangat bergantung dari pekerjaan ini untuk menghidupi kedua putriku yang masih kecil dan seorang suami yang tergolek tak berdaya karena dirongrong oleh penyakit parah yang sudah dideritanya selama bertahun-tahun.
Aku membayangkan hari-hari tanpa pekerjaan dan tanpa penghasilan di kota besar seperti ini. Seperti berada di ruang gelap, tanpa penerangan, tanpa arah. Bahkan kita tidak tahu ada apa di dalam ruangan tersebut. Adakah kawan atau malah lawan yang siap membunuh kita kapan saja untuk bertahan hidup.
Kutatap tanah tempat kakiku berpijak. Lamat-lamat kudengar dengusan nafas kekesalan dari majikanku. Seakan sedang berfikir, hukuman apa lagi yang akan diberikannya kali ini kepadaku. Aku berharap dia tidak memecatku kali ini, karena kesabarannya akan semua keteledoranku sudah habis.
Suasana hatiku semakin tak menentu, ketika tak kudengar satu patah kata pun keluar dari mulutnya. Seperti seorang narapidana yang menunggu ketukan palu sang hakim dalam persidangan.
Peluhku semakin deras menetes. Bukan hanya di wajahku, tapi kini mulai membanjiri seluruh tubuhku. Ku seka perlahan-lahan. Takut jika gerakan tubuhku menambah amarah Nyonya majikan.
Sungguh berada dalam suasana seperti ini, sangat tidak mengenakkan rasa. Menunggu tanpa kepastian. Hidupku dalam genggaman seseorang. Seseorang yang sekarang berada tak lebih dari satu meter di hadapanku. Semakin kutundukkan wajah. Kini jari jemariku tidak saling memilin, namun berganti meremas – remas kain yang melilit tubuhku.
”Surtiiiiiiiiiiiiiiii... kamu saya pecat! Bereskan barang-barangmu dan angkat kaki dari rumah ini,” akhirnya guntur itu menggelegar, membelah bumi, tapi tak ada air hujan yang turun untuk menentramkan hati.
Ruang gelap itu semakin nyata di pelupuk mata. Ruang gelap itu membuatku semakin sulit bernafas dan kurasakan semakin sesak dalam dada.
Kurasakan sekelilingku semakin gelap. Aku sudah berada di ruang gelap itu sekarang.
”Kamu tahu, sudah berapa lama aku merawat bunga anggrek biru ini?” suaranya yang melengking hampir memekakan gendang telingaku. Tangannya dengan kasar merenggut bahuku.
”Dan berapa banyak uang yang sudah kuhabiskan untuk membelinya? Hah?”
”Ceroboh sekali kau, Surti!!!”
Aku menjawab dengan terbata-bata dan ketakutan setengah mati. Masih dengan wajah tertunduk, kedua lututku semakin lemas dan tak berhenti gemetar.
”Anu Bu... ehhmmm... tadi.. anu... saya melihat ada 2 kucing kampung yang sedang berantem. Dan hmmm... anu... tadi.. tadi... saya coba melerai kucing itu Bu...”
”Lalu?” terlihat wanita berwajah jutek dan merupakan majikanku ini tidak sabar menunggu jawaban dariku. Aku bekerja sebagai pembantu rumah tangganya baru dalam sebulan terakhir ini. Kemudian kulanjutkan penjelasanku.
”Lalu, waktu saya mencoba melerainya dengan sapu, saya tidak sengaja menyenggol pot bunga anggrek itu, Bu. Maafkan saya, Bu.”
Air mataku mulai merebak. Sekuat hati kucoba untuk menahannya agar tidak tumpah dan mengalir di pipi. Saya tahu, Nyonya majikanku ini tidak akan semudah itu memaafkanku kali ini. Karena ini sudah yang kesekian kalinya aku merusak bunga – bunga kesayangannya.
Oh Tuhan, matilah aku kali ini. Bisa-bisa dipecatnya aku dari pekerjaan. Padahal aku sangat bergantung dari pekerjaan ini untuk menghidupi kedua putriku yang masih kecil dan seorang suami yang tergolek tak berdaya karena dirongrong oleh penyakit parah yang sudah dideritanya selama bertahun-tahun.
Aku membayangkan hari-hari tanpa pekerjaan dan tanpa penghasilan di kota besar seperti ini. Seperti berada di ruang gelap, tanpa penerangan, tanpa arah. Bahkan kita tidak tahu ada apa di dalam ruangan tersebut. Adakah kawan atau malah lawan yang siap membunuh kita kapan saja untuk bertahan hidup.
Kutatap tanah tempat kakiku berpijak. Lamat-lamat kudengar dengusan nafas kekesalan dari majikanku. Seakan sedang berfikir, hukuman apa lagi yang akan diberikannya kali ini kepadaku. Aku berharap dia tidak memecatku kali ini, karena kesabarannya akan semua keteledoranku sudah habis.
Suasana hatiku semakin tak menentu, ketika tak kudengar satu patah kata pun keluar dari mulutnya. Seperti seorang narapidana yang menunggu ketukan palu sang hakim dalam persidangan.
Peluhku semakin deras menetes. Bukan hanya di wajahku, tapi kini mulai membanjiri seluruh tubuhku. Ku seka perlahan-lahan. Takut jika gerakan tubuhku menambah amarah Nyonya majikan.
Sungguh berada dalam suasana seperti ini, sangat tidak mengenakkan rasa. Menunggu tanpa kepastian. Hidupku dalam genggaman seseorang. Seseorang yang sekarang berada tak lebih dari satu meter di hadapanku. Semakin kutundukkan wajah. Kini jari jemariku tidak saling memilin, namun berganti meremas – remas kain yang melilit tubuhku.
”Surtiiiiiiiiiiiiiiii... kamu saya pecat! Bereskan barang-barangmu dan angkat kaki dari rumah ini,” akhirnya guntur itu menggelegar, membelah bumi, tapi tak ada air hujan yang turun untuk menentramkan hati.
Ruang gelap itu semakin nyata di pelupuk mata. Ruang gelap itu membuatku semakin sulit bernafas dan kurasakan semakin sesak dalam dada.
Kurasakan sekelilingku semakin gelap. Aku sudah berada di ruang gelap itu sekarang.
- the end -
Asistensi 1- Pilot Project
| Start: | Sep 8, '08 4:00p |
| End: | Sep 8, '08 6:00p |
| Location: | Bandung |
Sudah bikin 2 detail penokohan, 1 pengadegan di alur cerita, dan sedikit penambahan di penunjang sumber cerita.
Masih butek mikir konflik2 cerita.....
Kimi Raikkonen
Saat Cinta Berhijrah
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Religion & Spirituality |
| Author: | Andi Bombang |
Warsih janda Warji juga memiliki seorang putri bernama Ratih.
Cerita dimulai dengan alur masa kini, ketika Rusman menikahi putri tirinya yang bernama Ratih, dan lahirlah Febi. Febi si anak haram, merasa tak pantas hidup di muka bumi.
Halal keluar dari Halal, Haram keluar dari Haram.
Anak haram akan tetap selamanya menjadi haram dan tak pantas bersanding dengan - Nya di surga.
Kekecewaan terhadap-Nya dia alihkan hidupnya sebagai gadis panggilan yang terkenal seantero Bandung. Jalan hidup yang dia tempuh membuatnya berharap untuk mendapatkan kebahagiaan dunia yang dia cari. Karena sudah tentu kebahagian akhirat sudah tertutup rapat untuk seorang anak yang terlahir dari sebuah hubungan haram ayah tiri dan anak.
Buku yang tebalnya kurang lebih 500 halaman ini, tetap menarik lembar demi lembar ketika aku membacanya. Mungkin karena pilihan kalimat yang begitu mengalir adanya, membuat novel ini tetap hidup hingga tetes terakhir.
Aku kasih bintang 4 karena novel ini dibawah satu bintang dengan novel Andi Bombang terdahulu yang berjudul "Kun Fayakun" yang lebih sarat perjalanan ruhani sang preman Hardi Kobra. Meski di novel kedua ini, tokoh Hardi Kobra muncul sebagai tokoh yang menuntun Febi kembali kejalan Tuhan-Nya.
1.9.08
Meet The Spartans
| Rating: | ★★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Comedy |
Hanya saja ketika selesai menonton, aku baru nyadar, kalo selama ini, banyak sudah hasil jiplakan indonesia terhadap budaya barat. Dari mulai makanannya, acara televisinya... waks.. sudah separah itu kah kita?
Capee deeeh
Subscribe to:
Posts (Atom)