2.7.08

I'm death by chocolate - versi lain

"Ma, teteh mau minta ijin niy," mata kedip-kedip minta belas kasihan.
"Dian kan mau balik ke amrik, jadi teteh mau ke rumahnya yang di jakarta hari Saptu ini, sekalian mampir juga di rumah Melly. Jadi sekalian jalan gitu loh. Kan belum pernah tuh ke rumah mereka. Sekalian silaturahmi gitu. Saptu malemnya teteh baru nginep di Melly, jadi minggu pagi udah balik lagi ke Bandung pake X-Trans. Kan X-Trans deketan tuh mah sama rumah Melly," duduk di sebelah mama, menatap, menghiba, mencoba meluluhkan hatinya untuk mendapatkan ijin menginap.

Mama langsung pasang muka tujuh rius. Sumpeh deh, masalah ijin-ijin menginap ini memang terbilang sueesaaaah di keluarga gw. Jangan kan menginap di rumah temen, luar kota lagi, menginap di rumah sodara aja, musti ada proposal seminggu sebelumnya tuh. Kagak bisa dadakan. Nah ini, gw minta sehari sebelumnya so pasti kans untuk diterima jauh dari kepastian. Tapi namanya gw pan udah sabodo amat. Secara gw selama ini sih kalo minta ijin suka rada-rada fait accompli, alias FYI buat mereka. Jadi selama ini mereka juga suka "terpaksa" mengijinkan daku pergi. Sejauh ini sih cara seperti itu fine-fine saja. Mereka juga gak rewel menyecer gw dengan sms or telepon2 gak penting di sela-sela kegiatan gw. Cuma entah kenapa otak gw hari itu menyuruh gw untuk melakukan hal yang beda dari biasanya. Dengan harapan bahwa cara ini adalah cara yang selama ini mereka minta dan lebih baik (gw rasa siy).

"Menginap? NO..... ," case closed.

(cerita pendek yang tak pernah selesai)