15.11.07

penjara pikiran

Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya, dengan gembira dia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain, namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya. Dengan penasaran dia menghampiri belalang lain itu dan bertanya, "Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh dariku, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia maupun ukuran tubuh?" Belalang itu menjawabnya dengan pertanyaan, "Di manakah kau tinggal selama ini? Semua belalang
yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan." Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang telah membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang tersebut. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan beruntun, perkataan teman, tradisi, dan kebiasaan bisa membuat kita terpenjara dalam kotak
semu yang mementahkan potensi kita.

Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apa yang mereka voniskan kepada kita tanpa berpikir dalam-dalam bahwa apakah hal itu benar adanya atau benarkah kita selemah itu? Lebih parah lagi, kita acap kali lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri
sendiri.

Tahukah Anda bahwa gajah yang sangat kuat bisa diikat hanya dengan seutas tali yang terikat pada sebilah pancang kecil? Gajah sudah akan merasa dirinya tidak bisa bebas jika ada "sesuatu" yang mengikat kakinya, padahal "sesuatu" itu bisa jadi hanya seutas tali yang
kecil...

Pernahkah Anda bertanya kepada diri Anda sendiri bahwa Anda bisa "melompat lebih tinggi dan lebih jauh" kalau Anda mau menyingkirkan "penjara" itu?
Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu yang selama ini Anda anggap di luar batas kemampuan dan pemikiran Anda?

Sebagai manusia kita berkemampuan untuk berjuang, tidak menyerah begitu saja kepada apa yang kita alami. Karena itu, teruslah berusaha mencapai segala aspirasi positif yang ingin Anda capai. Sakit memang, lelah memang, tapi jika Anda sudah sampai di puncak, semua
pengorbanan itu pasti akan terbayar. Pada dasarnya, kehidupan Anda akan lebih baik kalau Anda hidup dengan cara hidup pilihan Anda sendiri, bukan dengan cara yang dipilihkan orang lain untuk Anda.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

7 comments:

tony sapi said...

Halo Bu Feti,
Maaf saya pernah menulis komentar mengenai niat anda untuk memperbaiki diri, saya lupa dimana, dan saya tidak tahu anda priya atau wanita, ternyata anda seorang wanita yang cantik jelita.
Site nya keren habis. Saya sangat menyenangi artikel yang ini.
Terimakasih dan salam hormat

Kerlip Bintang said...

@tonysapi: wah saya malah lupa komentar yang pernah ditulis anda, tapi temen saya pernah bilang, kita memang tidak pernah akan berhenti untuk memperbaiki diri hingga Tuhan memanggil kita.

tony sapi said...

Kadang kita terutama saya bingung kearah mana saya harus memperbaiki diri. Maka agar nggak bingung cara yang paling mudah adalah kita rusakin dulu baru di perbaiki. Jadi kita tahu persis memperbaikinya gimana. Kalau anda tidak pernah berhenti memperbaiki diri anda, maka makin tua makin bijak. Kalau saya kenapa makin tua makin berantakan ya???

Kerlip Bintang said...

wakakakkk...
saya juga kadang bingung, gini salah gitu salah, tapi kalo saya sih selalu dikembalikan ke pedoman hidup saya "al-qur'an"
Biasanya "tidak mengambil sikap untuk sementara" adalah solusi terbaik.

kata siapa berantakan, kesadaran bahwa diri tidak sempurna adalah sesuatu yang luar biasa, dibandingkan orang yang merasa dirinya "orang baik-baik" tapi ternyata membuat efek negatif sama orang sekitar.

tony sapi said...

Ya Ibu benar, mengetahui kedaan diri sendiri dengan jujur adalah salah satu yang tersulit bagi saya. Diri saya adalah misteri bagi diri saya sendiri.
Bagaimana dengan diri orang lain ya, makin misteri deh pasti. Adalah sesuatu yang sangat menenangkan jika anda selalu berpegang pada pedoman hidup yang benar. Tapi tahukah Ibu, kadang2 orang yang sedang tidak mengambil sikap,-- sangat ngeselin--transaksi bisa jadi berkepanjangan. Jadi "sementara" nya jangan lama2.
Terimakasih dan salam hormat

Kerlip Bintang said...

hahahaaahaa...
saya setuju kalo ini mah..

tony sapi said...

Kenapa "saya setuju kalo yang ini mah" Siga anu tiyasa nyarios Sunda wae si Ibu teh?