8.1.09

Kau Memanggilku Malaikat

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Arswendo Atmowiloto
Ini adalah buku Arswendo pertama yang aku baca. Sebelumnya aku gak tertarik sama buku-buku yang ditulis oleh pe-nyastra. Yang terkesan mendayu-dayu dan puitis.

Tapi entah kenapa ketika melihat judul buku ini, aku langsung tertarik, dan tidak "ngeuh" dengan penulisnya Arswendo Atmowloto yang terkenal itu.

Ketika akhirnya aku mulai membaca halaman pertama, Oh God! Arswendo sangat pintar dalam pemilihan katanya. Briliant!

Kemudian bagaimana saya bisa ternganga dan percaya bahwa "sepertinya" Arswendo pernah menjadi seorang Malaikat.

Ini sebuah hal yang sangat sulit. Dimana penulis bisa dengan pintar menjadikan bukunya begitu nyata dan sesungguhnya.

Well.. ada beberapa bagian "tentang malaikat" dan tentang "kehidupan setelah mati" yang bertentangan dengan keyakianan saya.

Tapi over all aku acung 2 jempol jari kiri dan kanan saya atas karya ini.
Dan pada akhirnya, saya mulai hunting buku-buku Arswendo lainnya...

Ini review yang tertera di bagian belakang buku :

Sebagai malaikat aku bisa menemui mereka di saat terakhir hidup mereka, di beberapa tempat berbeda, dalam waktu yang sama. Aku bisa menghibur, namun tak sepenuhnya mendorong mereka untuk tidak mati pada saatnya.
- Seorang istri yang setia, tulus, mengabdi pada suami, anak, serta menantunya, ingin mengetahui keberadaan suaminya. Suami yang mempermalukan, merendahkan dengan mengawini adik menantunya ini, apakah selalu gembira seperti sebelumnya?
- Seorang preman yang dibakar hidup-hidup, pelan-pelan, dikeroyok, dan tak mau dikasihani.
- Seorang gadis penuh pesona, ditembak polisi karena menolak diperkosa.
- Seorang pengemudi bis yang tahu kendaraannya kurang layak jalan, serta anak-anak sekolah yang menumpang.
- Juga, hampir saja, seekor ayam.
Semua berjalan dengan baik dan memang begitulah sejak awal mula, sampai kemudian aku bertemu anak perempuan kecil, dipanggil Di. Anaknya lucu, mengenaliku dengan baik, entah basah atau kering ketika hujan turun, bisa tetap berada di pangkuan kedua orangtuanya saat seharusnya meninggalkannya.
Sejak ada Di, aku tak merasa sendirian. Aku melihat sayap-sayap malaikat dalam bentuk air mata, juga ketulusan.
Kematian sesungguhnya sangat indah dan menyenangkan---apa pun yang terjadi ketika masih hidup. Tapi ternyata kehidupan juga penuh pesona. Aku sempat tergoda.

1 comment:

arlinka fayola said...

seems good one. I'll buy this book of ur recommendation. Thanks teteh...