30.5.08

Cara Mengurangi Tagihan Bulanan PLN

Cara ini sudah kulakukan 3 atau 4 bulan kebelakang. Dan cukup manjur. Dimulai ketika aku menerima artikel untuk menghemat penggunaan listrik di sebuah milist. Tadinya gak begitu percaya. Namun setelah Papa mengeluh karena harus mengocek kantor sebesar kurang lebih Rp. 300.000 perbulan untuk pengeluaran biaya listrik, aku trial error juga ngelakuin itu.

Hey.. hey ternyata It Does Work.
Pada awalnya untuk mematikan TV aku cukup melalui remote control, begitu pula dengan komputer, DVD Player dan seperangkat Audio. Karena pikiranku, tidak akan ada listrik yang mengalir sebanyak itu untuk perangkat elektronik yang dibiarkan mati melalui remote tanpa memutuskan colokan kabelnya dari sumber listrik.

Tapi sekarang kumulai rutinitas ini, pagi sebelum berangkat ke kantor semua colokan listrik yang ada dikamarku, aku cabut semua. Dan untungnya cukup simple, karena semua bermuara di satu "colokan" (duh apa dong istilah rada mannernya?) saja. Dan kemudian ketika aku pulang kantor sekitar magrib, baru kunyalakan / kucolokaan (duh gak nahan gini istilahnya) lagi saluran listriknya jika diperlukan.

Setelah berselang beberapa waktu kemudian kutanyakan kepada Papa tentang biaya yang dikeluarkan untuk tagihan listrik 3 bulan ini, beliau bilang kalo tagihannya sekarang kisaran Rp.160 hingga 170 ribu....
Hore.. akhirnya uang jajan ku naik... (heheheee.. emang mahasiswa masih minta uang jajan sama ortu.. malu dooong aaaaah)

Jadi, jangan memandang sepele untuk penghematan meski kecil kalo dikali menit di kali jam di kali hari di kali bulan, lumayan gede juga.

Lagian aku miris juga sih, di beberapa daerah pasokan listrik udah menipis, trus pemadaman listrik secara bergilir udah mulai diberlakukan.
Buktinya selama 3 hari berturut2 Mall BIP mati lampu. Merem melek deh kita pas lagi makan siang di sana.
Trus hari ini pas ke Togamas buat beli buku, harus pasang mata ampe capek buat liat resensi di belakang buku. Belum lagi pas bayar gak pake komputer, jadi pake kalkulator gitu dengan bon seadanya. Bikin ngantri karena waktu pelayanan customer lebih lama. Trus yang paling lagi, kita gak bisa ngecek di direktory melalui komputer buku yang kita inginkan ada di rak mana. Nah musti gelap-gelapan lagi kan dalam lorong-lorong cinta penuh sejuta buku?

Halah ngomong apaan sih ini?

3 comments:

Pandu Sarijadi said...

Colokan = steker
Hehehehe masih tetap katro juga yach

puti mommy said...

iya mbak, hal besar kan dimulai dari yang kecil2.

lik sujar said...

kalo di bandung listrik mati pada bilang: "aya aliran, euy"
...