30.4.10

Hobi Baca, Kok Gak Semua Buku Dibaca?

Aku penasaran sama sebagian orang di luar sana. Jika seandainya kamu lagi baca buku, terus ditengah-tengah baca ternyata buku tersebut tidak seperti yang diharapkan atau tidak menarik. Apa yang akan dilakukan?

Maju baca terus, pantang mundur
 
 1

Tinggalkan buku tanpa berniat untuk meneruskan, dan pindah membaca buku lain
 
 3

Diselingi baca buku lain, tapi kemudian meneruskan buku pertama yang ditinggalkan
 
 2

Disimpan, dikasih pembatas buku, dan dilanjutkan kapan-kapan
 
 7

Dibaca ulang dari awal di lain waktu, saat mood sudah berubah
 
 2


Akhir-akhir ini saya sedang mempertanyakan hobiku membaca buku. Apa iya, aku ini punya hobi baca buku. Soalnya gak semua buku bisa aku nikmatin ketika membacanya. Dan terkadang menyerah begitu saja ditengah-tengah cerita. Pernah sih berusaha menguatkan diri untuk membaca buku yang tidak menarik hingga akhir. Tapi jadinya night mare banget. Bener-bener kebawa sampe mimpi buruk. Jadi akhirnya menyerah untuk tidak meneruskan membaca buku tersebut dan berpindah ke buku lain yang "diduga" lebih menarik.

Aku juga termasuk pemilih dalam membaca buku. Tulisan "Best Seller" bukan acuan bagi aku untuk membeli dan kemudian melahapnya.

Biasanya aku akan betah membaca, ketika buku tersebut menawarkan kekuatan karakter tokoh atau bisa juga bahasanya yang enak, logika cerita, dan pastinya memberikan nilai tambah untuk pengetahuan dan emosi dari buku-buku lainnya yang pernah aku baca.

Ah. jangan-jangan saya cuma seorang bookshopholic. hehehhe......

20.5.09

Dan, Dialah Dia

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Andi Bombang
Setiap kali selesai membaca buku Andi Bombang (terutama Kun Fayakun & Dan, Dialah Dia) seakan-akan segala permasalahan saya raib! Hilang entah kemana.

Saya juga merasa tidak pantas untuk menilai buku ini. Karena isinya yang maha dasyat. Sangat terbaca bahwa si penulis sudah naik tingkat pemahamannya akan "Dia" dibanding ketika memaparkan "Dia" dibuku Kun Fayakun.

Meski alur cerita yang dibahas sangat singkat-singkat, penulis ingin memasukkan banyak hal dan kejadian ke dalam buku ini. Namun tidak mengurangi pelajaran yang disampaikan oleh tokoh utama Pamungkas. Jika saja tak ada batasan dari penerbit mungkin Abang (panggilan akrab Andi Bombang) akan menuliskannya lebih dari 1000 halaman.

Nyatanya buku ke-3 dari Abang semakin membuat saya ingin dan penasaran untuk bertemu langsung dan bertatap muka dengan penulisnya. Bukan ingin meminta tanda tangan atau foto bersama, melainkan ingin mencari jawaban atas beribu pertanyaan (sekarang sudah berkurang karena dijawab dalam buku "Dan, Dialah Dia") yang muncul selama kurang lebih 10 tahun terakir dalam hidup saya.

Apakah Abang adalah Haji Imran yang sebenarnya? Hope so. Karena dengan begitu mungkin saya akan berguru kepadanya.

15.5.09

Bingung

Hijau, Biru, Ungu.
Semua sudah kucoba. Tak sebagus kalau kupakai kaos berpita manis warna merah. Bahkan masih lebih bagus saat kukenakan celana putih selutut yang dipadu dengan baby doll pink merona. Tapi semua itu terasa tidak pas di hati.

Kukeluarkan kembali tumpukan baju dalam lemari setengah terbuka tanpa kaca. Kucoba satu persatu. Bahkan baju favorit hadiah ulang tahun dari ayah tetap tidak cocok dikenakan.

Bimbang, kuhempas tubuh di atas tempat tidur. Di antara taburan berlusin-lusin pakaian. tangan terlentang lebar.

Menyerah sudah ragaku. Ingin terlihat cantik saja susah sekali. Padahal moment ini begitu penting. Satu fase dalam hidupku. Ibuku bilang umur 18 tahun sudah pantas untuk memutuskan segala sesuatu sendiri. Ini saat kuputuskan sesuatu yang penting itu.

Tangan masih merentang lebar. Kuraih acak sepasang baju. Dan kupakai dengan lebih pasti kali ini.

Baju sudah kupilih. Sekarang tinggal memilih lelaki mana yang akan kuputuskan hubungan terlebih dahulu. Nasrudin? Ataukah Antasari?

17.4.09

Objek : Puntung Rokok Star Mild

Kurasa benda itu sudah tidak suci dan perawan. Terbukti dari terdapat bekas lekukan di tubuhnya. Ada dua buah lekukan. Entah bekas diperas, dipencet atau dipilin. Warnanya yang didominasi oleh putih sangat kontras dengan strip biru tua yang melingkar di sekujur tubuhnya. Tampak pula huruf S dan T di atas garis itu.

Sebentar.., sebentar.., rasanya ada garis lain selain garis biru tua.
Ya, ya, ya, ada tiga garis lain di bawah garis biru.
Oh! Bukan, bukan! Hanya ada 2 garis berwarna kuning keemasan.

Diujung tubuhnya yang satu, dekat dengan garis keemasan terdapat bubuk-bubuk hitam. Seperti bekas terbakar. Bahkan bubuk-bubuk hitam itu tercecer sebagian di atas meja. Ceceran-ceceran itu ada yang sebesar titik atau lebih besar sedikit. Bubuk-bubuk hitam itu aa yang tertutup bayangan. Bayangan dari lampu di atas benda tersebut.

16.4.09

82

Sampaikah aku hingga angka 82?

31.3.09

break

Ini karya cerpen keduaku, silahkan dinikmati di sini. Aku memberinya judul B.R.E.A.K.

Cerpen keduaku ini, lebih aku sukai daripada karya yang pertama, karena banyak tantangan pada saat pembuatannya.

Setting di pantai, keharusan untuk memasukkan tokoh Cecep (tokoh utama kepunyaan calon penulis lain sainganku yaitu Syarif), dimana seorang Bebby harus punya korelasi yang logis dengan seorang hansip dalam cerita ini.

Setting di pantai juga merupakan tantangan tersendiri dari mulai cerpen ini digelar, semua anak klabs harus menulis di awal paragraf dengan settingan pantai. Jika sepuluh orang cerpenis mengisahkan sebuah kisah di pantai, akan sangat sulit untuk menonjolkan atau membuat perbedaan di pembacanya, jika tidak ada nilai lebihnya.

Hmmm..., kata mas kyu sih, cerpen aku yang kedua ini lebih puitis bahkan saking asik menbacanya hingga tidak sadar sudah selesai membacanya. Dan pastinya membuat si pembaca menunggu-nunggu tulisan-tulisanku yang lainnya setelah ini.

Boleh dong narcis

23.3.09

Tenang

Hari ini kuputuskan untuk tenang.
Aku ingin tenang lahir batin.
Tenang menyimak buku "The Book of Lost Things".
Kudepakap Demplon erat-erat dalam dadaku.
Ketenangan mulai datang.

12.2.09

My Sister Keeper, Penyelamat Kakakku

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Romance
Author:Jodi Picoult
Ketika saya mulai membaca buku ini, saya menemukan hal-hal menarik yang tersedia. Diawali dengan sinopsis yang tertera di sampul belakang buku. Tema ceritanya sangat "unik".

Yaitu seorang anak bernama Anna, 13 tahun, menggugat orang tuanya sendiri karena "merasa terpaksa" untuk mendonorkan sumsum tulang belakang beberapa hari setelah dia dilahirkan, kemudian sudah tak terhitung darah yang dia donorkan juga di umur balita, dan pada saat dia berumur 13 tahun dia juga harus mendonorkan salah satu ginjalnya.

Ini lah titik balik, ketika dia memberanikan diri untuk menggugat orang tuanya (khususnya ibunya) karena kegiatan "donor mendonor" ini tidak akan ada habisnya.

Penulisan dengan sudut pandang "aku" yang jamak dari setiap tokoh yang terlibat adalah salah satu hal yang menarik sekaligus merupakan kekurangan dari buku ini.

Ini adalah buku pertama yang saya baca dimana si penulis menyajikan tokoh "aku" yang jamak.

Namun, Jodi Picoult kurang menguatkan tokoh-tokoh itu dalam ke-aku-annya. Contohnya ketika dia menjadikan Anna si tokoh AKU, saya tidak bisa merasakan Anna sebagai tokoh anak kecil berumur 13 tahun, namun tokoh dewasa yang dipaksakan anak-anak, atau kebalikannya.

Terlihat sekali disini bahwa pikiran & sikap penulis yang sudah dewasa sangat mempengaruhi tokoh anna yang seharusnya sangat anak-anak.

Tadinya saya berharap banyak buku ini akan menjelaskan tentang jalannya persidangan yang alot layaknya buku-buku Sidney Sheldon yang menurut saya justru merupakan titik jual yang sangat menarik dibanding dengan buku lainnya, dibanding pemaparan kisah keseharian tokoh Ibu, Ayah, Pengacara, Wali, Kate, Jesse, dan Anna.

Kekurangan lainnya adalah ketika si penulis menjadikan "banyak surprise" sebagai penutup cerita, yang tragis dan tidak

Oke.. catatan terakhir yang bisa saya ambil dari keseluruhan cerita ini adalah "sangat lah sulit menjadi orang tua yang adil bagi seluruh anak-anaknya, dan biasanya hal itu juga tidak bisa ditutup-tutupi."

Oh iya, buku ini bisa menambah pembendaharaan pengetahuan tentang kanker leukemia, lengkap dengan istilah kedokteran dan penanganannya.

Tapi by the way sepertinya penterjemah buku ini kurang "klik".

8.1.09

Hamzah, Sang Juara

Saya dapat tulisan ini dari Kang Roel.
Dan sengaja saya copy paste di sini, agar saya selalu ingat pada pesan yang disampaikan oleh artikel ini.
*******

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Hamzah.
Mobilnya tak istimewa, namun dia termasuk 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Hamzah lah yang paling tak sempurna.

Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya.

Namun, Hamzah bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan.

Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap digaris start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang.

Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 'pembalap' kecilnya.
Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.

Namun, sesaat kemudiaan, Hamzah meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai.
Ia tampak komat-kamit seperti sedang berdoa.

Matanya terpejam, dengan tangan yang bertangkup memanjatkan doa.
Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap !".

Dor. !!!!
Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat.
Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing.
"Ayo..ayo..cepat. .cepat, maju..maju", begitu teriak mereka.

Ahha..sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai.
Dan, Hamzah lah pemenangnya.

Ya, semuanya senang, begitu juga Hamzah. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati.
« Terima kasih »

Saat pembagian piala tiba. Hamzah maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan,
ketua panitia bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan ? ". Hamzah terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Hamzah.

Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. "Aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah."
Semua hadirin terdiam mendengar itu.

Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.

Renungan :

Anak-anak tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua. Hamzah, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian.
Hamzah, tak memohon dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya. Namun, Hamzah, bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa kepada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal, bukankah yang kita butuhkan adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya ?

Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui ?

Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah.

Sesungguhnya, Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya yang sholeh.

Kau Memanggilku Malaikat

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Arswendo Atmowiloto
Ini adalah buku Arswendo pertama yang aku baca. Sebelumnya aku gak tertarik sama buku-buku yang ditulis oleh pe-nyastra. Yang terkesan mendayu-dayu dan puitis.

Tapi entah kenapa ketika melihat judul buku ini, aku langsung tertarik, dan tidak "ngeuh" dengan penulisnya Arswendo Atmowloto yang terkenal itu.

Ketika akhirnya aku mulai membaca halaman pertama, Oh God! Arswendo sangat pintar dalam pemilihan katanya. Briliant!

Kemudian bagaimana saya bisa ternganga dan percaya bahwa "sepertinya" Arswendo pernah menjadi seorang Malaikat.

Ini sebuah hal yang sangat sulit. Dimana penulis bisa dengan pintar menjadikan bukunya begitu nyata dan sesungguhnya.

Well.. ada beberapa bagian "tentang malaikat" dan tentang "kehidupan setelah mati" yang bertentangan dengan keyakianan saya.

Tapi over all aku acung 2 jempol jari kiri dan kanan saya atas karya ini.
Dan pada akhirnya, saya mulai hunting buku-buku Arswendo lainnya...

Ini review yang tertera di bagian belakang buku :

Sebagai malaikat aku bisa menemui mereka di saat terakhir hidup mereka, di beberapa tempat berbeda, dalam waktu yang sama. Aku bisa menghibur, namun tak sepenuhnya mendorong mereka untuk tidak mati pada saatnya.
- Seorang istri yang setia, tulus, mengabdi pada suami, anak, serta menantunya, ingin mengetahui keberadaan suaminya. Suami yang mempermalukan, merendahkan dengan mengawini adik menantunya ini, apakah selalu gembira seperti sebelumnya?
- Seorang preman yang dibakar hidup-hidup, pelan-pelan, dikeroyok, dan tak mau dikasihani.
- Seorang gadis penuh pesona, ditembak polisi karena menolak diperkosa.
- Seorang pengemudi bis yang tahu kendaraannya kurang layak jalan, serta anak-anak sekolah yang menumpang.
- Juga, hampir saja, seekor ayam.
Semua berjalan dengan baik dan memang begitulah sejak awal mula, sampai kemudian aku bertemu anak perempuan kecil, dipanggil Di. Anaknya lucu, mengenaliku dengan baik, entah basah atau kering ketika hujan turun, bisa tetap berada di pangkuan kedua orangtuanya saat seharusnya meninggalkannya.
Sejak ada Di, aku tak merasa sendirian. Aku melihat sayap-sayap malaikat dalam bentuk air mata, juga ketulusan.
Kematian sesungguhnya sangat indah dan menyenangkan---apa pun yang terjadi ketika masih hidup. Tapi ternyata kehidupan juga penuh pesona. Aku sempat tergoda.

7.1.09

Mini Workshop "Sosialisasi WRC"

Start:     Jan 14, '09 09:00a
End:     Jan 14, '09 3:00p
Location:     Ruang Rapat Sabilulungan PT. TELKOM, Bandung
Kata si Bos niy, Indonesia ini suka ketinggalan untuk ngasih proposal WRC. Padahal tuh kegiatan internasional ini wajib setiap 2 tahun sekali. Secara orang-orang di dunia internasional udah nge-take frekuensi, pas kita masukin udah gak kebagian.
Walhasil industri lokal kita gak pernah maju-maju, selalu jadi sub-kontrak orang bule mulu.
Huhuhu... :((
Jadi tahun ini, ASSI musti sosialisasi di awal, biar kita gak ketinggalan kereta lagi untuk WRC 2011.

12.12.08

ramadhan kali ini

Sedih banget sama ramadhan kali ini. Gak ada persiapan hati, hiks! Biasanya selalu ada sebuah harapan besar dan agenda / to do list panjang yang akan nemenin aku untuk menjalani setiap bulan puasa. Tapi sekarang? Jangankan persiapan berbulan-bulan atau setahun sebelumnya. Seminggu pun gak ada. Sehari juga gak tuh..

Gak banyak yang diharapkan dari ramadhan kali ini. Tapi bukan tanpa arti atau semangat sama sekali. Hanya saja goal-goal yang dituju tak setinggi ramadhan2 sebelumnya.

Cuma satu yang jadi concern aku kali ini: menata ulang shalat wajibku yang sudah lama tertinggal dan terlalaikan. Mudah-2an ramadhan jadi point awal menuju kehidupan yang lurus menuju Allah.
Sedangkan taraweh, menyelesaikan 2 juz Al-Qur'an adalah bonus tambahan buat aku.

Gak ada daftar-daftar mesjid yang akan kukunjungi dalam 10 hari terakhir. Tapi mudah2an semua ini, tidak mengurangi kerinduanku terhadap bulan yang penuh berkah ini.
Amiiiin... Ya Allah tuntun aku ya menuju surga-Mu yang tertinggi...

Selasa, 26 Agustus 2008

Four Musketeers

Kemaren ada buka puasa bareng temen-temen sma 8. Awalnya rada hoream sih gabung. Tapi terpaksa karena harus jadi panitia dadakan. Aku yang reserve tempat masa aku gak dateng. Untungnya ada Andra yang bantuin aku untuk follow up temen2 lainnya buat datang. Kalo aku sendiri yang ngelakonin.... Fuiiihhh.. kagak bakalan bisa tuh. Masalahnya dari mana aku dapat nomor telepon tuh temen-temen yang lain. Pastinya aku yang malem berkontak-kontak ria sudah bisa diduga sangat minim database contactnya.

Dan pada hari H, "KUATKAN DIRI".
Kata Andra juga biarin aja sedatengnya berapa aja. Gak usah muluk-muluk pengen banyak yang ngumpul. Trus bikin aku rada hoream plus plus plus... karena tuh acara buka bersama kumpulnya setelah magrib. Secara aku kan balik kantor jam 4 sore tuh. Jadi matung gitu deh di kantor ampe jam 6 sore. Untung ada internet. Jadi yaaa.. gak bete-bete banget lah. Padahal pan kantor aku rada seyeeeemmm..... jaman peninggalan belanda gitu deh.


Akhirnya datang lah diriku ke Ngopi Doeloe pas jam 18.30 teng. Udah bisa ditebak kalo tuh meja hasil reservasi udah dikasihin sama orang lain. Hiks! Sedih deh. Gak dapet di luar deh. Sumpek deeeeeh....

Jam 7 an temen yang lain baru pada muncul. Andra duluan. Trus ada Myrna dan Evi.. Horeee.. akhirnya bukan three Musketer, tapi nambah jadi Four Musketer :D

Rame juga ternyata. Pada berkenang-kenang gitu masa-masa jadul. Guru-guru, tentang homreng, tentang semua deh. 3 of us still single. Untung si Andra gak ngomongin masalah keluarga seperti kebanyakan temen-temen yang lain. Hihihihiiiii.....

Gak kerasa tuh jam udah nunjukin jam 9.30 malem, akhirnya satu - satu kita pada pulang. Evi, Andra trus Aku. Si Myrna masih betah stay di situ. Katanya mau online dulu. Oh iya. Gaya euy si Myrna sekarang maenannya sama dunia Artis. Dia jadi pengasuh fans-fans nya Afgan. Padahal aku gak begitu suka siy sama si Afgan. Tapi punya temen yang bisa kerja di lingkungan artis mah tetep weh hebat lah!!!

Bukan sama popularitasnya, tapi sama ketangguhannya menjaga diri dalam lingkungan yang seperti itu. You Know lah...

Ya sutra akhirnya malem telah larut, aku pulang pake taxi....... Sms mas buat ngabarin kalo aku dah di rumah. Cuci kaki, Cuci tangan, trus popo.... Hoaaaammmm.....

Kalo mau liat foto-fotonya klik disini.

(Catatan harian, Jumat, 19 September 2008)



D'Risol

Senin Siang, 24 November 2008

Karena Jum'at kemaren dapet penilaian yang baik sama di Cafe, maka hari ini diputuskan kita makan siang disini.

Siang itu sebetulnya gak begitu penuh pengunjung, tapi entah kenapa pelayan yang jumlahnya lebih dari 20 orang itu gak ada yang menghampiri meja kami untuk menanyakan order menu. Walhasil, karena hati kita lagi gak terlalu bete, akhirnya aku ambil menu yang tergeletak begitu saja di meja kosong samping kami.

Oke, aku order Bulgogi dan juice stawberry dengan cemilan risol rasa cheezy satu biji.
Disini bermula kebetean aku, karena si pelayan salah mendengar order aku, dia malah ngasih risol satu porsi, jelas aku protes karena dengan cemilan yang banyak di depan, pasti mengurangi selera makan siang aku.

Si pelayan yang 'biiiiiip...(disensor)"  itu, malah bilang kalo pesan risol musti satu porsi gak bisa satu biji. Gimana mungkin? Lawong jumat kemaren kita pesennya satu bijian kok. Lagipula kalo emang gak boleh satu biji, kenapa pula ada harga satu biji.

Ternyata tuh pelayan BIIIIIIIIPPPPPP (disensor lagi sama penulis)!

Tentang Taliwang

Sebetulnya gue gak mau bikin judul "Taliwang". Liat kata ini kayaknya gue dah eneq duluan.

Diawali siang ini, waktu cari makan siang. Maksud hati siy bukan makan di tempat ini. Tadinya mau Bebek Van Java. Cuma tuh resto malah tutup. Mungkin karena ini hari Jum'at dan biasanya buka after jam 1 siang. Trus pas coba ke rumah nenek juga masih belum buka. Jadi cari yang di deket-deket situ. Bisan males kalo harus ngejar Bebek Ban Java yang daerah Dago deket Madtari itu. Selain tempatnya gue gak suka, trus harus nempuh perjalanan yang cukup jauuuuh.

So, terdamparlah kita di sini. Di ayam Taliwang Bersaudara. Pertama kita kaget karena harga yang tertera relatif mahal kalo diliat dari tempat makan yang gak sesuai. Trus si Mbak2 Pelayan yang sok butuh gak butuh ngelayanin kita. Trus kita juga sempet kaget, pas nanya tuh ayam yang harganya 27rebu itu per potong or per ekor. Dia bilang perekor.

"Wah gede dong ya? Berarti cukup untuk berapa orang Mbak," gue nanya detail.
"Seekor cukup untuk satu orang," dia ngejelasin.

Alamaaak.. kok jawab gak kira-kira. Kita orang bukan bapak2 berperut buncit yang bisa makan siang dengan 1 ekor ayam perorang. Weleeeh....

Oke, kita akhirnya pesen setengah ekor ayam, plus cumi-cumi goreng kering sama kangkung plecing.
Kita cuma minum pake teh tawar panas. Soalnya pas gue mau pesen juice, tuh si Mbak malah ngoyor, mungkin dia gak yakin kalo kita bisa beli minuman lainnya.

Soal harga siy biasanya gue gak peduli, mau tuh makanan seporsi harga seratus ribu juga gak masalah. Tapi seimbangin dong dengan tempat, pelayanan, dan rasa.

Terus terang, dengan "pembuka" yang agak "Gak Banget" gue kecewa sama rasa. Ayamnya yang standar banget (kalo rasa ayam kayak gini sih gak usah di resto tertentu), cumi goreng garing yang liat dan rasanya asin banget (bener-bener asin cumi beneran), trus kangkung plecing yang rasanya nendang (mirip ditendang sapi pilus garuda, it means gak banget).

Walhasil disimpulkan menu terenak di Taliwang bersaudara ini adalah nasi putih.
Horey.. gak - gak lagi deh kita ke sini.

Karena ngerasa lindah masih nanggung (bukan nanggung, malah sedikit ho-ek), dan perut yang masih setengah kosong, kita hijrah ke D'risol yang bersebrangan dengan niy tempat makan.

Wokeh deh niy risol, lembut, rasa lumer di lidah dengan orange juice yang rasanya pure banget.
Akhirnya kebetean ku bisa terselamatkan. Meskipun ongkos makan siang yang harus dikeluarkan kali ini cukup mahal (di atas Rp.50.000).

Jum'at, 21 November 2008

Satelit Indonesia

http://satelit.wordpress.com
Nemu website yang ada "satelit"nya jadi di link aja kesini.
Barangkali si penulis, mau meng-update tulisannya dan aku gak lupa sama website ini, jadi aku masukin deh di daftar interest link aku.

Arif Pitoyo's Journal

http://arifpitoyo.blogspot.com
Arif Pitoyo ini adalah seorang wartawan Bisnis Indonesia yang khusus memberitakan masalah satelit dan telekomunikasi lainnya.

11.12.08

iBegYourPrada

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Entertainment
Author:Alexandra Dewi & Chyntia Agustina
Aku selalu ingin punya tulisan yang seperti ini. Kondisi yang menyebalkan bisa sangat manis dan lebih bermanfaat ketika gaya penuturan penulis disampaikan dengan cara pintar.

Buku ini merupakan kumpulan beberapa pemikiran dari 2 cewek tentang orang-orang kelas menengah di kota Metropolitan. Dimana orang terlalu memaksakan diri untuk melakukan / membeli sesuatu hanya karena ingin mendapat pengakuan status sebagai "Orang Berkelas".

Faktanya semua cerita di buku ini, sudah aku temukan di beberapa teman aku yang kemudian hijrah ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Dan meninggalkan identitas lamanya sebagai orang Bandung yang menyenangkan.

yaaa.. gitu deeh...