(Fiqih Pra Nikah)
16.00 pm di pengajian Pak Aam
Sore ini Pak Aam kasih beberapa pilihan yang sangat sulit. Kali ini tema yang diangkat adalah “Manakah pilihan yang paling ideal menurut anda?”.Kadang kita dihadapkan pada beberapa pilihan hidup dalam kondisi yang sangat tidak signifikan dengan keinginan hati. Karena segala sesuatu tidak selamanya sesuai dengan yang diharapkan.
The First choice : Menikah tanpa cinta.
Oh My GODNESS, one of my frightened, disaat hati sudah sangat lelah untuk menanti sang belahan jiwa, yang pada akhirnya kita memutuskan untuk menikah dengan siapa saja tanpa mempertimbangkan risalah hati. Padahal pernikahan itu sangat berat untuk dijalani tanpa ada ikatan kuat antara dua jiwa, meski pilihan ini masih sangat rasional untuk bisa dijalani dengan keikhlasan hati dalam beribadah pada sang Ilahi. Mampu gak ya?
The second is : Cinta……. Tapi tidak menikah?
Ini lagi….. sesuatu yang aku pikir sangat bodoh untuk dilakukan. Pilihan untuk menunggu sang anugerah cinta datang tanpa adanya batasan waktu menunggu dengan sebuah keyakinan penuh, bahwa “Dia Yang Dinanti Kan Datang dan Kembali”.Hari gini….. masih mikirin setia sama satu cowok yang gak tauk juntrungannya?
Next ones : Menikah dengan cinta, tapi tanpa restu orang tua?
Huh! Pilihan apa ini? Aku rasa happy ending dari cerita kayak gini, hanya ada di sinetron-sinetron Indonesia dengan 6 episode bersambung……. Non Sense! Pernikahan sudah sangat cukup berat, apalagi tanpa dukungan kedua orang tua. Bukan karena aku gak bisa mandiri, tapi karena ridhonya Allah ada pada ridhonya orang tua. Dan apakah kita cukup yakin dengan apa yang selalu terjadi di karangan picisan itu, bahwa lahirnya seorang anak akan membawa perubahan pada situasi yang ada? Bagaiman kalo ternyata Tuhan tidak memberikan kita anak? Lalu dengan jalan apa kita bisa memperbaiki durhakanya kita pada orang tua? Lagipula anak perempuan jika tidak dinikahi oleh wali yang syah, yaitu ayah kandung, hukumnya haram. It is so impossible and difficult for me.
Last choice : Tidak menikah…..?
Hmmmm…. Pilihan ini diambil ketika hati sudah tidak merasakan indahnya cinta sehingga tak ada hasrat untuk menikah. Saya rasa orang-orang yang berada pada sisi ini, menganggap bahwa suatu pernikahan hanya akan mempersulit langkah-langkah mereka menuju kesuksesan di dunia kerja, atau karena menurut penglihatan mereka di lingkungan sekitar mereka, bahwa orang-orang yang menikah terlilit banyak permasalahan-permasalahan yang sangat complicated.Dulu….. (betul) dulu sekali, saya pernah terfikir pada pilihan ini. Dengan alasan bahwa menikah itu hanya akan menambah permasalahan, dan adanya ketidaksiapan mental untuk menghadapi semua resiko pernikahan termasuk perceraian. Juga dengan alasan, buat apa kita memaksakan pernikahan jika tidak dengan orang yang kita cintai?
Tapi seiring berjalannya waktu, pikiran saya tentang pernikahan sudah berubah. Masalah pasangan yang selingkuh, masalah anak, mertua, ipar, ekonomi, hanyalah salah satu cara Tuhan untuk menguji kita sebagai makhluknya disamping ujian-ujian lainnya. Mampu untuk ikhlas dan ridho dalam menjalani setiap ketetapan Allah akan sangat membantu kita dalam menjalani hidup.
Deeply inside of my heart I still hope that will be another choice besides the 4th ones. But it was stopped at point 4.
Tadinya kupikir, pilihannya tidak akan sesulit ini. Namun, ternyata jawaban yang harus dihadirkan tidak cukup untuk direnungkan dalam satu jam setengah pertemuan dengan beliau.
1 comment:
Kenapa gak bisa, bisalah hidup ini kan pilihan ..
kalau orang tidak bisa memberikan pilihan buatlah pilihan sendiri yang lebih baik !! baik menurut kata hati, baik menurut agama.
Wake up .... make a choice
Post a Comment