12.9.08

Juminten, Sebuah Ringkasan Cerita

Juminten, gadis berumur 21 tahun dan berparas ayu. Dia berasal dari Sragen dan ingin mencari peruntungan hidup di Jakarta. Ketika tiba di Stasiun Kereta Senen, Juminten sangat kebingungan untuk mencari rumah Pak De Kardijan, adik kandung ibunya. Pada saat itu, dia hanya berbekal peta hasil tulisan tangan Pak De-nya setahun yang lalu dan alamat yang dituju seadanya.

Perjalanan dalam pencarian rumah saudaranya itu, mempertemukannya dengan Betran. Seorang tukang bajaj berumur 28 tahun yang sok Metropolis. Kelucuan-kelucuan terjadi ketika Betran, yang bernama asli Paijo ”memaksa” untuk mengantarkan Juminten yang terlihat kebingungan di kota Jakarta yang baru pertama kali ini dia kunjungi.

Sifat Juminten yang lugu dan selalu menelan mentah-mentah setiap informasi, dimanfaatkan oleh Betran yang sedari awal sudah berniat jahat pada Juminten. Lelaki Jakarta mana yang tidak tergoda melihat sosok Juminten yang berkulit kuning lansat, berambut panjang dan berbadan aduhai terbungkus kain kebaya ketat.

Juminten percaya pada Betran yang berjanji akan mengantarkannya ke rumah Pak De Kardijan. Karena Juminten terbiasa hidup di Sragen, dimana semua orang akan dengan senang hati membantu tamu desa yang datang dan membutuhkan pertolongan tanpa pamrih. Sementara itu, Betran memacu otaknya dengan keras untuk menemukan cara agar bisa menjerat Juminten.

Kelucuan pertama terjadi ketika Juminten merasakan keroncongan perutnya. Dengan pe-de dia meminta Betran untuk menemaninya makan siang dan sekaligus membayarkannya. Tentu saja Betran protes akan hal ini. Namun Juminten menjelaskan bahwa di Sragen, seorang lelaki harus bisa membela harga dirinya dengan tidak membiarkan perempuan untuk membayar makanannya. Lanjutnya pula, di Sragen setiap tamu yang datang ke desanya harus dihargai selayaknya. Dan dengan termehek-mehek pula, Juminten menghiba pada Betran yang tega jika mengharuskan dia untuk membayar.

Saat itu, Betran mengalah. Lebih tepatnya ”terpaksa” mengalah. Karena malu jika harus beradu mulut di depan orang banyak. Dan faktanya Betran ”terpaksa” mengalah karena luluh oleh wajah kuyu Juminten yang menahan tetesan air mata agar tidak keluar dari pelupuknya. Juminten sedih, karena dia tidak punya cukup banyak uang. Dia hanya berbekal sisa lima puluh ribu rupiah.

Betran membesarkan hatinya sendiri. Bahwa kerugian materi ini tentunya akan terbayarkan kelak jika Juminten sudah berhasil dia jerat oleh akal bulusnya.

Sejurus kemudian, Juminten sudah berada dalam bajaj Betran untuk meneruskan pencarian rumah Pak De Kardijan. Bentran yang sudah hampir 10 tahun tinggal di kota Jakarta, tentu saja sangat mengenal dan mengetahui alamat yang dituju oleh Juminten. Letaknya tidak jauh dari Stasiun Kereta Senen. Oleh sebab itu, setahun yang lalu, Pak De Kardijan cukup memberikan peta itu kepada ibu Juminten sebagai penunjuk jalan. Namun dengan alasan bahwa Jakarta setahun yang lalu dan Jakarta yang sekarang berbeda, Juminten percaya.

Awalnya Betran berharap Juminten membawa bekal uang yang sangat banyak dari Sragen ke Jakarta, sehingga di tengah jalan dia bisa merampas uang tersebut. Namun kasus makan siang itu membuktikan bahwa Juminten tidak memiliki cukup uang untuk dirampas. Akhirnya karena sudah kadung kesel dan dongkol, Betran berniat untuk menjual Juminten kepada Tante Vina, germo berumur 46 tahun yang berlokasi di daerah Mangga Besar. Uang hasil ini akan digunakan oleh Betran untuk melunasi sisa hutangnya membeli bajaj sama Ko Ah Tjong sebesar tujuh juta rupiah.

Dalam perjalanannya ke daerah Mangga Besar, lokasi Tante Vina, berulang kali Juminten meminta Betran untuk meminggirkan bajajnya. Ada-ada saja alasan Juminten untuk menghentikan sejenak perjalanannya yang diyakininya menuju rumah Pak De-nya itu. Berhenti di kios pinggir jalan untuk membeli peniti lah karena kancing kebayanya terlepas waktu tadi bersiteru di warung makan. Kemudian berhenti lagi di kios yang lain hanya untuk membeli minum. Berang hati Betran karena bajajnya disamakan dengan taxi yang bisa dengan seenaknya diberhentikan oleh penumpang di mana saja.

Kesabaran Betran hampir habis, tatkala Juminten memintanya berhenti di depan Mesjid Istiqlal untuk shalat dzuhur dan ashar. Namun, Betran menyabarkan diri dengan memikirkan uang yang akan didapatkannya dari Tante Vina setelah menjual Juminten. Tadinya Juminten akan digarapnya sebelum diserahkan ke rumah germo itu. Namun harga seorang perawan akan lebih mahal ketimbang yang bukan perawan. Akhirnya, Bentran menahan niatnya untuk melakukan perbuatan asusila terhadap gadis tersebut.

Di dalam kawasan mesjid Istiqlal, Juminten mengajak Betran untuk shalat berjamaah. Awalnya Betran menolak karena dia tidak mengetahui caranya shalat. Namun Juminten dengan rendah hati berjanji akan mengajarkannya cara berwudhu hingga cara shalat. Dengan ogah-ogahan pemuda berkulit coklat dan tinggi 174 cm itu menurut dengan satu alasan yang tersimpan dalam hati rapat-rapat bahwa gadis ini akan menghasilkan banyak uang untuk dirinya.

Memasuki mesjid Istiqlal dan melihat kemegahan di dalamnya, membuat hati pemuda yang hanya tamatan SMP ini ciut dan gemetar. Baru kali ini dia merasakan perasaan yang membuat bulu kuduknya merinding. Entah apa yang menggerakkan itu semua. Mungkin karena tempat ini sangat suci. Mungkin baru kali ini Betran disapa oleh-Nya. Tapi yang pasti, perasaan campur aduk itu membuat hati Betran meringis hingga menangis dalam hati. Meratapi kehidupannya yang hambar tanpa cinta-Nya. Dan ketika Betran melihat Juminten mengenakan mukena dengan tetesan air wudhu membasahi wajah ayunya, sejurus kemudian pemuda itu bersujud tersedu sedan. Menyesali semua perbuatannya selama hidup di dunia ini.

Dengan rasa penyesalan yang amat dalam, Betran membeberkan segala niatnya selama ini terhadap Juminten. Juminten yang lugu, pemaaf dan rendah hati hanya tersenyum mendengar penuturannya. Kemudian gadis itu memberikan petuah-petuah hidup yang sangat menyejukkan hati Betran.

Sore itu, menjelang magrib, Betran menuju arah Kemayoran. Lokasi rumah Pak De Kardijan yang selama ini menjadi tujuan Juminten.

3 comments:

Ini Susie said...

akhirnya Juminten bisa ketemu dengan Pak De Kardijan kan..??
ceritanya cukup mengharukan :)

Kerlip Bintang said...

belum tau tuh mbak, mungkin itu episode 2
-yg sedang belajar bikin cerpen ringan-

Ini Susie said...

owwhh... masih ada episode 2 yaa...
brarti dibikin jangan ketemu dulu biar tetep penasaran para pembacanya
heehehehh...