Pohon itu tak terlalu tinggi. Ada sebuah bangku kayu di dekatnya. Kuayunkan kakiku lamat-lamat. Sambil kuhirup minuman dalam gelas plastik yang kubeli di warung terdekat. Rasanya beraneka rasa. Ada rasa asam, manis dan sedikit pedas. Rasa heran kemudian muncul dalam benakku saat itu. Kok, ada minuman yang berasa pedas. Kupelototi gelas plastik dalam genggamanku. Hmmmmm……, apa ya bahan minuman ini. Warnanya yang hijau muda membuatku menganalisa bahwa itu terbuat dari rasa melon. Ah…., rasa manis mungkin berasal dari melon. Tapi dari mana datangnya rasa pedas dalam minuman itu? Kubulak balik kembali gelas plastik itu. Kali ini, kupindahkan ke tangan yang lain. Kuteliti bagian sisinya yang polos tanpa merek. Di bagian bawah gelas pun tak ada tulisan apapun yang mengidentifikasi merek minuman itu. Setidaknya satu kata akan bisa membantu rasa penasaranku.
Kuhela nafas dalam-dalam. Kuhempaskan tubuhku ke atas bangku kayu itu. Warnya yang sudah kusam tak mengurangi kenyamananku untuk duduk di atasnya. Kusibakkan rambutku, kutekuk lututku. Kusandarkan punggungku di sandaran kursi kayu yang telah di cat hijau. Entah, dicat oleh siapa?
Minuman dalam gelas plastik putih itu sudah setengah kosong. Tapi, aku belum bisa tahu dari mana rasa pedas itu datang. Apa memang dicampur dengan biji cabe kering di dalamnya? Atau gelas plastik itu tadinya kotor dan kemudian dipakai ulang oleh penjualnya? Apa tadi gelas ini bekas digunakan mangkuk rujak? Atau tanganku kah tadi yang kotor? Tapi rasanya, aku tidak makan yang pedas-pedas sebelumnya.
Ah! Persetan dengan rasa minuman dalam gelas plastik ini. Yang jadi kepedulianku sekarang, betapa indahnya jika gelas plastik dalam genggamanku ini adalah tubuh wanita yang kucintai. Pastinya bukan hanya akan kugenggam, tapi akan kupeluk selamanya dalam dekapanku.
Kuhela nafas dalam-dalam. Kuhempaskan tubuhku ke atas bangku kayu itu. Warnya yang sudah kusam tak mengurangi kenyamananku untuk duduk di atasnya. Kusibakkan rambutku, kutekuk lututku. Kusandarkan punggungku di sandaran kursi kayu yang telah di cat hijau. Entah, dicat oleh siapa?
Minuman dalam gelas plastik putih itu sudah setengah kosong. Tapi, aku belum bisa tahu dari mana rasa pedas itu datang. Apa memang dicampur dengan biji cabe kering di dalamnya? Atau gelas plastik itu tadinya kotor dan kemudian dipakai ulang oleh penjualnya? Apa tadi gelas ini bekas digunakan mangkuk rujak? Atau tanganku kah tadi yang kotor? Tapi rasanya, aku tidak makan yang pedas-pedas sebelumnya.
Ah! Persetan dengan rasa minuman dalam gelas plastik ini. Yang jadi kepedulianku sekarang, betapa indahnya jika gelas plastik dalam genggamanku ini adalah tubuh wanita yang kucintai. Pastinya bukan hanya akan kugenggam, tapi akan kupeluk selamanya dalam dekapanku.
-end-
4 comments:
seperti wanita yang di headshot itu yaa.. :)
mbak.... ini petikan dari suami mbak ya? hihihi...
Fur mbak Soesyl dan inka :
aaaah... kalian bisa aja
(muka merah jambu redup)
hmmm menyentuh banget.. huuuu
Post a Comment