8.9.08

Ruang Gelap

Peluhku mengucur. Menetes dari dahi turun hingga ke dagu. Kupilin-pilih jari jemari tanganku. Wajahku tertunduk. Menatap tanah. Aku tak berani menatap kedua matanya yang sedang berapi-api mengeluarkan luapan emosi. Kedua lututku gemetar, menanti kalimat apa lagi yang akan dikeluarkannya kali ini. Aku tahu, ini adalah kesalahan bodoh yang tidak bisa dia toleri.
”Kamu tahu, sudah berapa lama aku merawat bunga anggrek biru ini?” suaranya yang melengking hampir memekakan gendang telingaku. Tangannya dengan kasar merenggut bahuku.
”Dan berapa banyak uang yang sudah kuhabiskan untuk membelinya? Hah?”
”Ceroboh sekali kau, Surti!!!”

Aku menjawab dengan terbata-bata dan ketakutan setengah mati. Masih dengan wajah tertunduk, kedua lututku semakin lemas dan tak berhenti gemetar.
”Anu Bu... ehhmmm... tadi.. anu... saya melihat ada 2 kucing kampung yang sedang berantem. Dan hmmm... anu... tadi.. tadi... saya coba melerai kucing itu Bu...”
”Lalu?” terlihat wanita berwajah jutek dan merupakan majikanku ini tidak sabar menunggu jawaban dariku. Aku bekerja sebagai pembantu rumah tangganya baru dalam sebulan terakhir ini. Kemudian kulanjutkan penjelasanku.
”Lalu, waktu saya mencoba melerainya dengan sapu, saya tidak sengaja menyenggol pot bunga anggrek itu, Bu. Maafkan saya, Bu.”
Air mataku mulai merebak. Sekuat hati kucoba untuk menahannya agar tidak tumpah dan mengalir di pipi. Saya tahu, Nyonya majikanku ini tidak akan semudah itu memaafkanku kali ini. Karena ini sudah yang kesekian kalinya aku merusak bunga – bunga kesayangannya.

Oh Tuhan, matilah aku kali ini. Bisa-bisa dipecatnya aku dari pekerjaan. Padahal aku sangat bergantung dari pekerjaan ini untuk menghidupi kedua putriku yang masih kecil dan seorang suami yang tergolek tak berdaya karena dirongrong oleh penyakit parah yang sudah dideritanya selama bertahun-tahun.
Aku membayangkan hari-hari tanpa pekerjaan dan tanpa penghasilan di kota besar seperti ini. Seperti berada di ruang gelap, tanpa penerangan, tanpa arah. Bahkan kita tidak tahu ada apa di dalam ruangan tersebut. Adakah kawan atau malah lawan yang siap membunuh kita kapan saja untuk bertahan hidup.

Kutatap tanah tempat kakiku berpijak. Lamat-lamat kudengar dengusan nafas kekesalan dari majikanku. Seakan sedang berfikir, hukuman apa lagi yang akan diberikannya kali ini kepadaku. Aku berharap dia tidak memecatku kali ini, karena kesabarannya akan semua keteledoranku sudah habis.

Suasana hatiku semakin tak menentu, ketika tak kudengar satu patah kata pun keluar dari mulutnya. Seperti seorang narapidana yang menunggu ketukan palu sang hakim dalam persidangan.

Peluhku semakin deras menetes. Bukan hanya di wajahku, tapi kini mulai membanjiri seluruh tubuhku. Ku seka perlahan-lahan. Takut jika gerakan tubuhku menambah amarah Nyonya majikan.

Sungguh berada dalam suasana seperti ini, sangat tidak mengenakkan rasa. Menunggu tanpa kepastian. Hidupku dalam genggaman seseorang. Seseorang yang sekarang berada tak lebih dari satu meter di hadapanku. Semakin kutundukkan wajah. Kini jari jemariku tidak saling memilin, namun berganti meremas – remas kain yang melilit tubuhku.  

”Surtiiiiiiiiiiiiiiii... kamu saya pecat! Bereskan barang-barangmu dan angkat kaki dari rumah ini,” akhirnya guntur itu menggelegar, membelah bumi, tapi tak ada air hujan yang turun untuk menentramkan hati.

Ruang gelap itu semakin nyata di pelupuk mata. Ruang gelap itu membuatku semakin sulit bernafas dan kurasakan semakin sesak dalam dada.
Kurasakan sekelilingku semakin gelap. Aku sudah berada di ruang gelap itu sekarang.

- the end -

10 comments:

Kang Nash said...

keren euyyy

Ta Cincin said...

wow, benar2 gelap...

:-)

roel musthafa said...

hmmm.... dua jempol plus setetes air mata....

arlinka fayola said...

Dan bahkan Jakarta jauh lebih "gelap" dari itu mbak...

kota yang sakit!

Kerlip Bintang said...

lagi belajar nulis fiksi niy...
biar bisa nyamain Kang Nash kalo udah perpuisi ria hahahaa.....

Kerlip Bintang said...

tinggal "on" kan saklar lampu, terang dweh 'Ta
Untung cintanya Cinta gak segelap ruangan Surti :D

Kerlip Bintang said...

bukan air mata buaya kan?

Kerlip Bintang said...

setuju, banyak temen saya yang berubah sejak tinggal di Jakarta.
Eh.. eh.. tanya kenapa?

d!@N Oktariani said...

Kereeeeennnn... aku suka banget yang ini, Pe.

Kerlip Bintang said...

saya suka semuanya 'Ian..
( Hehehe.. narcis nya keluar deh :D )